Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC Fenomena penggunaan frasa “adalah pokoknya” dalam menjawab pertanyaan di media sosial semakin sering digunakan oleh pengguna muda di Kota Lhokseumawe dalam percakapan sehari-hari digital.

Dalam wawancara yang dilakukan pada Senin, (8/6/2026) di kawasan Arun, Lhokseumawe, beberapa warga menjelaskan bahwa frasa “adalah pokoknya” biasanya dipakai untuk menutup jawaban tanpa penjelasan panjang atau alasan yang rinci.

Yuyun (19) mengatakan bahwa “adalah pokoknya” sering muncul ketika seseorang sudah yakin dengan pendapatnya, tetapi tidak ingin menjelaskan detail karena dianggap tidak terlalu penting.


Tia (20) menambahkan bahwa istilah tersebut juga digunakan saat orang malas berdebat panjang, sehingga memilih jawaban singkat yang langsung menegaskan sikap tanpa argumentasi.


Ardiandani (21) menjelaskan bahwa dalam konteks media sosial, frasa ini menjadi semacam penutup percakapan yang menunjukkan keputusan atau pendirian tanpa perlu diskusi lanjutan.


Heni (21) menilai bahwa meskipun terlihat sederhana, penggunaan frasa ini bisa mengurangi kedalaman komunikasi karena informasi yang disampaikan tidak disertai penjelasan yang jelas.

Para narasumber sepakat bahwa “adalah pokoknya” mencerminkan gaya komunikasi cepat di era digital, tetapi tetap perlu digunakan secara bijak agar tidak menghambat pemahaman dalam percakapan.

Menurut mereka, keseimbangan antara kecepatan berbicara dan kejelasan makna tetap penting agar komunikasi di media sosial tidak hanya singkat, tetapi juga tetap informatif dan mudah dipahami.