Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC — (01/08/2026) Mahasiswa perantauan tidak hanya dituntut beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru, tetapi juga dengan cita rasa makanan di daerah tempat mereka menempuh pendidikan. Hal ini dirasakan oleh Oka (18), mahasiswi asal Palembang yang kini berkuliah di Universitas Malikussaleh sejak tahun 2025.
Menurut Oka, perbedaan rasa makanan di Aceh sudah terasa sejak awal dirinya menetap sebagai anak kos. Salah satu makanan yang paling ia bandingkan adalah ayam geprek, yang menurutnya memiliki cita rasa berbeda dengan ayam geprek di kampung halamannya.
“Of course kerasa banget bedanya. Biasanya anak kos identik sama ayam geprek kan. Nah, sambal ayam geprek di sini beda banget sama yang di Palembang. Jujur aku lebih suka yang di Palembang, jadi kangen rasanya. Terus aku juga enggak tahu kenapa, entah bumbunya yang beda atau gimana, tapi rasanya di sini lebih unik, cuma bukan tipe yang aku suka,” ujar Oka.
Selain harus menyesuaikan lidah, Oka juga sempat mengalami gangguan pencernaan saat mencoba berbagai makanan di luar. Ia mengaku pada masa-masa awal tinggal di Aceh hampir setiap membeli makanan di luar kos, dirinya mengalami diare.
“Awal-awal di Aceh setiap beli makanan di luar aku diare. Padahal makanannya enggak pedas, sementara di Palembang aku dikenal rajanya pedas. Pokoknya hampir setiap beli makanan di luar langsung mules. Cuma kalau makan di Kantin 13 aku enggak pernah diare,” katanya.
Pengalaman tersebut membuat Oka lebih sering memasak sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Jika tidak sempat memasak, ia memilih membeli makanan di Kantin 13 karena merasa lebih cocok dengan kondisi tubuhnya.
Seiring berjalannya waktu, Oka mengatakan tubuhnya mulai beradaptasi dengan makanan khas Aceh. Meski begitu, ia masih lebih selektif dalam memilih menu dan tempat makan agar terhindar dari gangguan pencernaan.
“Sekarang perutku sudah lumayan adaptasi. Jadi cuma di beberapa tempat makan aja yang bikin diare, enggak segampang dulu. Kalau beli makanan, aku biasanya lebih suka ayam tepung karena aku kurang cocok sama rasa bumbu masakan yang lain,” tuturnya.
Pengalaman Oka menunjukkan bahwa proses adaptasi mahasiswa rantau tidak hanya berkaitan dengan kehidupan akademik dan sosial, tetapi juga kebiasaan makan sehari-hari. Perbedaan cita rasa serta kondisi tubuh yang masih menyesuaikan menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian mahasiswa yang merantau ke daerah baru.