Asap tipis mulai mengepul dari tungku kayu di sudut dapur. Panci besar berisi kuah beulangong terus diaduk menggunakan pengaduk kayu yang panjang. Aroma rempah khas Aceh bercampur dengan wangi daging yang sedang dimasak memenuhi udara. Beberapa orang terlihat sibuk memotong bumbu, sementara yang lain menyiapkan kayu bakar agar api tetap menyala. Suasana seperti ini masih bisa ditemukan di beberapa daerah di Aceh ketika ada kenduri, pernikahan, atau acara keagamaan. Di tengah banyaknya makanan cepat saji, kuah beulangong tetap menjadi hidangan yang sulit digantikan.
Bagi masyarakat Aceh, kuah beulangong bukan hanya makanan. Hidangan ini sudah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun. Proses memasaknya dilakukan secara gotong royong, mulai dari menyiapkan bahan, memasak, hingga membagikan makanan kepada masyarakat. Nilai kebersamaan inilah yang membuat kuah beulangong memiliki makna lebih dari sekadar sajian untuk mengenyangkan perut.
Di beberapa daerah, masih ada pedagang dan penyedia jasa memasak kuah beulangong yang terus mempertahankan cara memasak tradisional. Mereka memilih menggunakan kayu bakar karena dipercaya membuat cita rasa masakan lebih nikmat dibandingkan menggunakan kompor gas. Walaupun prosesnya lebih lama dan tenaga yang dibutuhkan lebih banyak, cara ini tetap dipertahankan karena sudah menjadi ciri khas sejak dahulu.
Perubahan zaman tentu membawa tantangan tersendiri. Kini banyak orang lebih memilih makanan yang praktis dan cepat disajikan. Selain itu, harga bahan pokok yang terus berubah membuat biaya memasak kuah beulangong juga semakin besar. Meski begitu, permintaan terhadap hidangan ini masih cukup tinggi, terutama saat bulan Ramadan, Idulfitri, Iduladha, serta berbagai acara adat masyarakat Aceh.
Menurut informasi dari Pemerintah Aceh, kuliner tradisional merupakan bagian dari identitas budaya daerah yang perlu terus dilestarikan. Makanan tradisional tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi warisan budaya yang mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Salah satu penyedia jasa memasak kuah beulangong di Aceh, Muhammad Sulaiman (52), warga Gampong Cot Geulumpang, Lhokseumawe, mengatakan bahwa setiap kali mendapat pesanan untuk acara besar, proses persiapannya bisa dimulai sejak malam hari.
"Kalau pesanan banyak, kita sudah mulai kerja malam. Bumbu harus dihaluskan, daging dipotong sesuai ukuran, lalu dimasak selama beberapa jam supaya bumbu benar-benar meresap," kata Sulaiman.
Ia menambahkan, "Kadang kami kerja bergotong royong sampai subuh, karena kuah beulangong yang enak memang butuh sabar."
Selain mengandalkan cita rasa, para pedagang juga menjaga kualitas bahan baku. Mereka memilih daging yang masih segar dan rempah-rempah pilihan agar rasa kuah tetap konsisten.
"Kalau dagingnya kurang sehat atau rempahnya tidak bagus, orang bisa langsung bedakan rasanya. Karena itu kami selalu pilih bahan terbaik meskipun harganya agak mahal," ujar Sulaiman.
Di sisi lain, pembeli memiliki alasan tersendiri mengapa masih memilih kuah beulangong. Bagi sebagian orang, makanan ini mengingatkan pada masa kecil ketika keluarga besar berkumpul dalam acara kenduri. Seorang pembeli, Siti Rahma (34), ibu rumah tangga dari Kecamatan Muara Satu, mengatakan,
"Setiap kali ada kenduri dan ada kuah beulangong, rasanya hangat, bukan cuma di perut tapi juga di hati. Bau rempahnya mengingatkan aku waktu kecil, semua keluarga berkumpul. Susah cari rasa kayak gitu di makanan modern."
Dari hasil pengamatan, proses memasak kuah beulangong juga memperlihatkan nilai kerja sama yang masih kuat di masyarakat. Tidak ada satu orang yang mengerjakan semuanya sendiri. Ada yang bertugas membersihkan bahan, menghaluskan bumbu, mengatur api, hingga mengaduk kuah secara bergantian. Semua dilakukan bersama-sama sampai makanan siap disajikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak hanya berbicara tentang rasa. Di balik setiap panci besar kuah beulangong terdapat cerita mengenai kebersamaan, saling membantu, dan menjaga warisan budaya. Nilai-nilai seperti inilah yang perlahan mulai berkurang di tengah gaya hidup masyarakat yang semakin individual.
Keberadaan media sosial ternyata juga membawa pengaruh positif. Banyak pedagang mulai mempromosikan jasa mereka melalui Facebook, Instagram, hingga WhatsApp. Cara ini membuat pelanggan lebih mudah mengetahui informasi harga, menu, maupun jadwal pemesanan. Tradisi lama akhirnya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa harus kehilangan ciri khasnya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Generasi muda mulai jarang belajar memasak kuah beulangong karena menganggap prosesnya terlalu rumit. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin jumlah orang yang benar-benar menguasai teknik memasak tradisional akan semakin sedikit.
Karena itu, pelestarian kuliner tradisional tidak hanya menjadi tanggung jawab pedagang atau juru masak. Keluarga, masyarakat, hingga pemerintah juga memiliki peran penting untuk mengenalkan kembali makanan khas daerah kepada generasi muda. Festival kuliner, pelatihan memasak, maupun promosi melalui media digital bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga tradisi tetap hidup.
Api di bawah belanga perlahan mulai mengecil. Kuah beulangong akhirnya matang setelah dimasak selama berjam-jam. Satu per satu warga datang mengambil makanan sambil berbincang dan bercanda. Pemandangan sederhana itu menunjukkan bahwa tradisi belum benar-benar hilang. Selama masih ada orang yang mau memasak, berbagi, dan menikmati kuah beulangong bersama, maka warisan budaya Aceh akan tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.