Karo, EXPLOREPUBLIC – Fenomena lautan awan di puncak Gunung Sibuatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menarik perhatian wisatawan dan pendaki dalam beberapa pekan terakhir. Pemandangan hamparan awan yang menutupi hutan pegunungan “pada pagi hari” membuat jumlah pengunjung meningkat, terutama saat Minggu (17/08/25).
Pengelola basecamp mencatat sekitar 150 hingga 200 pendaki dari daerah Medan, Binjai, Pematang Siantar datang selama Agustus 2025. Sementara pada Januari – Juli 2025, jumlah pendaki rata-rata berkisar 20 hingga 40 orang per hari. Sebagian besar pengunjung datang untuk menyaksikan langsung panorama lautan awan dari kawasan puncak Gunung Sibuatan.
Gunung dengan ketinggian sekitar 2.457 meter di atas permukaan laut itu dikenal sebagai gunung tertinggi di Sumatera Utara atau sering disebut “Atap Sumatera Utara”. Para pendaki biasanya memulai perjalanan sejak “pagi hari” agar dapat tiba di puncak sebelum matahari tenggelam.
Saat pagi tiba, kabut tebal mulai menutupi hutan di sekitar pegunungan dan membentuk hamparan awan putih yang terlihat dari area puncak. Kondisi tersebut sering dimanfaatkan pendaki untuk beristirahat sambil menikmati suasana matahari terbit di atas lautan awan.
Salah seorang pendaki asal Pematang Siantar, Sathyaksa Muda Putranta Tarigan (21), mengatakan suasana di puncak Gunung Sibuatan berbeda ketika lautan awan mulai muncul pada pagi hari. “Tadi kami sampai sebelum matahari terbit, Pas awannya mulai naik dan nutup puncak, suasananya langsung ramai karena semua pendaki berfoto di puncak” ujar Sathyaksa.
Menurutnya, kondisi jalur menuju puncak cukup berat karena didominasi tanjakan curam dan jalur licin setelah hujan. Namun, pemandangan lautan awan menjadi alasan banyak pendaki tetap datang ke Gunung Sibuatan.
Selain menikmati panorama alam, sebagian pengunjung juga mengabadikan momen menggunakan kamera dan telepon genggam. Dokumentasi tersebut kemudian diunggah ke media sosial seperti TikTok dan Instagram sehingga membuat Gunung Sibuatan kembali ramai diperbincangkan.
Ramainya aktivitas pendakian turut berdampak pada masyarakat sekitar kawasan basecamp. Warung makan, keamanan kendaraan, hingga penyewaan perlengkapan pendakian mulai mengalami peningkatan selama Agustus 2025.
Meski jumlah wisatawan meningkat, salah seorang dari komunitas pecinta alam, Bayu Syahputra (21) tetap mengingatkan para pendaki agar menjaga kebersihan kawasan gunung dan tidak meninggalkan sampah selama perjalanan. “Kalau datang mendaki sampahnya jangan ditinggal, bawa turun lagi supaya kondisi gunung tetap terjaga” ujarnya.