Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC — (05/06/2026) Di perbatasan Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, berdiri sebuah gunung yang menyimpan negeri di atas awan Gunung Sibuatan. Dengan ketinggian 2.457 meter di atas permukaan laut, gunung ini menjadi puncak tertinggi di Provinsi Sumatera Utara, menggantikan posisi Gunung Sinabung yang ketinggiannya menyusut menjadi 2.451 mdpl akibat serangkaian erupsi yang terjadi antara tahun 2010 hingga 2016. Dari puncaknya, hamparan Danau Toba beserta siluet Pulau Samosir terbentang luas, seolah sebuah lukisan alam yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang bersedia menempuh perjalanan panjang menembus hutan purba.
Perjalanan menuju puncak Gunung Sibuatan dimulai dari Desa Nagalingga, sebuah desa yang terletak sekitar 15 menit dari Kecamatan Merek dan berada pada ketinggian 1.518 mdpl. Dari desa inilah pendaki memasuki Pintu Rimba Deleng Sibuaten, gerbang awal yang menjadi batas antara dunia keseharian dan alam liar Sibuatan. Waktu tempuh menuju puncak berkisar antara tujuh hingga sembilan jam, melewati lima shelter yang tersebar di sepanjang jalur. Shelter pertama dapat dicapai dalam waktu sekitar 30 menit dari pintu rimba, dikelilingi pepohonan besar yang menjulang tinggi.
Tantangan sesungguhnya baru terasa setelah shelter kedua, ketika jalur semakin menanjak dan berlumpur menuju shelter ketiga yang membutuhkan waktu tempuh sekitar tiga jam. Medan Gunung Sibuatan tidak memberi ruang bagi kelengahan. Akar-akar pohon besar menjadi rintangan para pendaki, sementara lumpur tebal yang menutupi jalur bisa mencapai setinggi lutut kala curah hujan sedang tinggi. Lumut hijau yang tumbuh tebal di bebatuan sepanjang jalur menambah tingkat kelicingan trek, membuat setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat.
Gunung ini juga menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati yang langka, termasuk tanaman kantong semar dan anggrek liar yang tumbuh di sepanjang jalur pendakian. Semua kelelahan perjalanan terbayar lunas begitu shelter kelima terlampaui. Dari titik itu, panorama terbuka mulai menyambut mata, Danau Toba dan siluet Pulau Samosir terlihat membentang di kejauhan. Di Puncak Pilar, yang terbagi menjadi Puncak Timur dan Puncak Barat, pengalaman itu semakin sempurna. Dari Puncak Timur, pendaki dapat menyaksikan matahari terbit yang perlahan muncul dari balik cakrawala, mewarnai lautan awan di bawahnya dengan semburat jingga dan keemasan. Sementara dari Puncak Barat, senja turun dengan latar Gunung Sinabung dan Taman Nasional Gunung Leuser yang membingkai langit sore hari.
Puncak Sibuatan memang lebih sering tertutup kabut, namun saat angin menyapu kabut itu, pemandangan Bukit Sipiso-piso, Gunung Sibayak, dan dataran Karo ikut tersingkap, menjadikan momen tersebut terasa seperti sebuah hadiah yang tidak semua pendaki bisa dapatkan. Menurut salah satu pendaki Zulham (23) mengatakan, “Gunung Sibuatan cukup ekstrem untuk pendaki pemula, tapi pemandangan diatas bisa buat lupa sama rasa capenya” ungkapnya. Zulham mengaku, Sibuatan tidak memberikan pemandangan lautan awan saat dia mendaki pada (01/06/2026) tetapi hal itu tidak membuatnya kecewa karena keindahan yang diberikan saat tiba diatas tampak menakjubkan.
Gunung Sibuatan bukan sekadar titik tertinggi di Sumatera Utara. Ia adalah perpaduan antara alam liar yang belum terjamah, ekosistem hutan pegunungan yang masih terjaga, dan panorama puncak yang menjanjikan pengalaman yang sulit dilupakan. Bagi mereka yang telah menginjakkan kaki di puncaknya, Sibuatan bukan hanya sebuah gunung dia adalah negeri di atas awan yang membuktikan bahwa keindahan terbesar memang selalu menuntut usaha yang setimpal untuk dicapai.