Banda Aceh, EXPLOREPUBLIC.COM-Di tengah permukiman warga Punge Blang Cut, Banda Aceh, berdiri sebuah kapal raksasa berwarna kuning kusam yang tampak begitu asing di antara rumah-rumah penduduk. Bangunan besi tua ini sebenarnya bukan pembangkit listrik tenaga air, melainkan kapal pembangkit listrik tenaga diesel yang lebih dikenal dengan nama PLTD Apung, sebuah saksi bisu dari bencana paling mematikan yang pernah melanda tanah Aceh.

Kapal generator raksasa ini awalnya dioperasikan oleh Perusahaan Listrik Negara untuk memasok kebutuhan listrik warga Banda Aceh dan sekitarnya, berlabuh tenang di kawasan pelabuhan sebelum bencana besar mengubah segalanya secara tiba-tiba dan tak terduga.

Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa bumi dahsyat berkekuatan besar mengguncang dasar Samudra Hindia dan memicu gelombang tsunami raksasa yang menerjang pesisir Aceh dengan kekuatan luar biasa dahsyat dan mematikan.

Gelombang tsunami yang datang bertubi-tubi itu menyeret kapal seberat ribuan ton tersebut sejauh sekitar lima kilometer dari lokasi awalnya di pelabuhan hingga terdampar di tengah permukiman padat penduduk, sebuah jarak yang hampir mustahil dibayangkan akal sehat.

Kini, puluhan tahun berlalu sejak peristiwa mengerikan itu, kapal tersebut tetap dibiarkan berdiri di tempatnya sebagai monumen dan museum tsunami yang mengingatkan generasi mendatang akan kedahsyatan alam sekaligus kekuatan warga Aceh untuk bangkit dari keterpurukan.