Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC (10/07/2026) – Sambal ganja khas Aceh masih menjadi salah satu pelengkap hidangan yang digemari masyarakat karena memiliki cita rasa gurih, pedas, dan aroma rempah yang khas. Meskipun namanya mengandung kata "ganja", sambal ini sama sekali tidak menggunakan tanaman ganja sebagai bahan pembuatannya. Nama tersebut diberikan karena kelezatan rasanya yang membuat banyak orang ingin menikmatinya kembali.
Sambal ganja dibuat dari perpaduan udang segar, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, belimbing wuluh, kelapa parut sangrai, garam, dan penyedap secukupnya. Sebagian besar bahan tersebut mudah diperoleh dari hasil laut, kebun masyarakat, maupun pasar tradisional di Aceh sehingga kesegaran bahan baku tetap terjaga dan mencerminkan pemanfaatan pangan lokal dalam kuliner khas daerah.
Seluruh bahan kemudian diolah melalui proses penumisan hingga bumbu meresap sempurna dan menghasilkan tekstur yang kering. Perpaduan rasa gurih dari udang dan kelapa sangrai, pedas dari cabai, serta sensasi asam dari belimbing wuluh menciptakan cita rasa yang khas dan berbeda dari sambal pada umumnya. Cita rasa inilah yang membuat sambal ganja banyak disajikan sebagai pelengkap berbagai hidangan khas Aceh dan tetap diminati oleh masyarakat maupun wisatawan.
Salah seorang mahasiswa Universitas Malikussaleh, Fikri (20), mengatakan bahwa sambal ganja menjadi pelengkap makanan favoritnya karena memiliki rasa yang unik dan tidak mudah ditemukan di daerah lain.
"Perpaduan udang, kelapa sangrai, dan belimbing wuluh membuat sambal ini memiliki cita rasa yang khas. Rasanya cocok dipadukan dengan berbagai jenis lauk sehingga membuat makanan terasa lebih nikmat," ujarnya.
Mahasiswa lainnya, Anisa (20), menilai sambal ganja merupakan salah satu kekayaan kuliner Aceh yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat luas.
"Banyak orang salah paham dengan namanya. Padahal sambal ini tidak mengandung ganja sama sekali, melainkan menggunakan bahan-bahan alami yang menjadi ciri khas masakan Aceh. Kuliner seperti ini layak dipromosikan karena menjadi bagian dari identitas budaya daerah," katanya.
Menurut mereka, sambal ganja tidak hanya menjadi pelengkap hidangan, tetapi juga mencerminkan kekayaan rempah-rempah Aceh serta pemanfaatan bahan pangan lokal yang diolah menjadi sajian bercita rasa khas. Keberadaan kuliner ini menjadi salah satu upaya menjaga warisan kuliner tradisional agar tetap dikenal dan diminati oleh berbagai kalangan.