Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC – Seblak masih menjadi salah satu makanan favorit mahasiswa di Banda Aceh pada 2026. Popularitas kuliner pedas asal Bandung ini terus bertahan di tengah banyaknya tren makanan baru yang bermunculan.
Sebagian mahasiswa menilai media sosial menjadi faktor utama yang membuat seblak semakin dikenal dan diminati berbagai kalangan.
Amanda (19), Seorang mahasiswa, mengatakan penyebaran informasi melalui media sosial membuat seblak lebih mudah menjadi tren. Menurutnya, makanan tersebut semakin populer karena sering muncul dalam berbagai konten digital.
“Seblak sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi media sosial membuat makanan ini semakin dikenal. Banyak penjual juga memodifikasi resep agar sesuai dengan selera konsumen,” ujar Amanda. (6/6)
Selain faktor media sosial, variasi topping menjadi daya tarik utama bagi penikmat seblak. Kini banyak gerai menerapkan konsep prasmanan sehingga pembeli bebas memilih isi sesuai selera masing-masing.
“Menurut aku, seblak disukai karena topping-nya banyak. Sekarang juga ada seblak prasmanan, jadi orang lebih leluasa memilih isi yang mereka suka,” kata Asyifa (19). (6/6)
Fenomena viralnya seblak juga dikaitkan dengan tren yang berkembang di media sosial. Amalia (19) mengaku mulai menyukai seblak setelah sering melihat konten kuliner tersebut di berbagai platform digital.
“Jujur, aku awalnya ikut tren saja. Waktu seblak kerupuk Rafael viral di media sosial, aku jadi penasaran dan akhirnya suka karena rasanya enak,” ujar Syifa.
Meski memiliki banyak penggemar, tidak semua mahasiswa menyukai makanan tersebut. Beberapa menilai penggunaan makanan beku dan kandungan minyak yang cukup tinggi membuat seblak kurang menarik untuk dikonsumsi.
Amanda mengaku jarang membeli seblak karena harga beberapa menu dianggap cukup mahal. Selain itu, ia menilai beberapa varian memiliki rasa yang terlalu berminyak dan pedas.
Pendapat serupa disampaikan Kania (18) yang mengaku tidak terlalu menyukai seblak. Menurutnya, makanan tersebut kurang sehat sehingga ia hanya sesekali mengonsumsinya saat bersama teman-temannya.
“Kalau tidak bersama teman-teman, saya hampir tidak pernah makan seblak. Biasanya saya hanya memilih mie, sosis, telur, dan tidak terlalu suka kerupuknya,” kata Kania. (6/6)
Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa popularitas seblak tidak hanya dipengaruhi rasanya, tetapi juga tren media sosial, kreativitas topping, serta pengalaman konsumsi yang berbeda pada setiap mahasiswa.