Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC (25/07/2026) Pakaian adat Aceh bukan sekadar busana untuk upacara, melainkan warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat yang dijunjung tinggi sejak masa kerajaan hingga kini.
Pakaian adat untuk wanita dikenal sebagai Aneuk Jamee atau Daro Baro. Terbuat dari kain sutra berwarna mendalam seperti merah hati, hijau zamrud, atau hitam, busana ini dihiasi sulaman benang emas dengan pola bunga atau motif alam yang dikerjakan secara teliti. Dilengkapi kerudung yang disusun rapi dan perhiasan emas tradisional, setiap detailnya menggambarkan keanggunan sekaligus kesopanan wanita Aceh.
Sedangkan untuk pria, pakaian adat bernama Linto Baro. Terdiri dari jas tertutup, celana senada, sarung yang dililitkan di pinggang, destar khas di kepala, dan sering dilengkapi keris. Busana ini melambangkan keberanian, tanggung jawab, serta sikap wibawa yang menjadi ciri khas pria Aceh.
Menurut Cut Rizka (19), setiap bagian pakaian ini memiliki makna mendalam. "Warna yang dipilih melambangkan kemakmuran dan kesetiaan, sedangkan sulaman emas menunjukkan rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur," ujarnya.
Kini pakaian adat Aceh tidak hanya dikenakan saat pernikahan atau hari besar keagamaan, tapi juga menjadi inspirasi karya desainer muda. Hal ini dilakukan agar pesan dan keindahan warisan leluhur tetap dikenal dan dibanggakan oleh generasi mendatang, baik di dalam daerah maupun di kancah yang lebih luas.