Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC – Tren konten art therapy atau terapi seni semakin ramai dibagikan di media sosial, terutama melalui TikTok dan Instagram. Aktivitas seperti menggambar, mewarnai, melukis, hingga membuat jurnal visual kini banyak dipilih, khususnya oleh remaja, sebagai cara sederhana untuk mengelola stres dan menjaga kesehatan mental.
Meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental setelah pandemi COVID-19 membuat masyarakat semakin terbuka mencari metode sederhana untuk mengurangi tekanan emosional. Salah satu metode yang kini banyak diperbincangkan adalah art therapy, yaitu pendekatan psikoterapi yang memanfaatkan proses kreatif melalui seni sebagai media untuk mengekspresikan perasaan, mengenali emosi, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Dalam praktik kesehatan mental, terapi seni tidak hanya digunakan sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendampingan psikologis bagi individu yang mengalami kecemasan, depresi, trauma, maupun stres berkepanjangan. Melalui aktivitas kreatif, seseorang dapat menyalurkan emosi yang sulit diungkapkan melalui kata-kata.
Selain membantu mengekspresikan emosi, terapi seni juga dinilai mampu meningkatkan rasa percaya diri. Menyelesaikan sebuah karya, meskipun sederhana, dapat memberikan rasa pencapaian yang berdampak positif terhadap kondisi psikologis seseorang. Aktivitas ini juga melatih fokus sehingga pikiran lebih terarah dan tidak terus-menerus dipenuhi rasa cemas.
Temuan penelitian turut memperkuat manfaat terapi seni terhadap kesehatan mental. Penelitian di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah terhadap 35 pasien skizofrenia menunjukkan peningkatan self-efficacy setelah mengikuti art therapy berupa kegiatan melukis pada media tote bag. Rata-rata skor General Self-Efficacy Scale (GSES) meningkat dari 21,91 menjadi 29,89 setelah intervensi, sementara hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value 0,000 (p<0,05), yang menandakan adanya peningkatan self-efficacy setelah terapi.
Meski penelitian tersebut dilakukan pada pasien skizofrenia, hasilnya menunjukkan bahwa terapi seni berpotensi menjadi salah satu metode pendukung dalam meningkatkan kepercayaan diri dan membantu proses pemulihan psikologis. Penerapannya pada masyarakat umum tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu dan, bila diperlukan, dilakukan di bawah pendampingan tenaga profesional.
Meski demikian, terapi seni bukanlah pengganti terapi psikologis maupun pengobatan medis bagi penderita gangguan mental. Terapi ini lebih tepat diposisikan sebagai metode pendukung untuk membantu individu memahami dan mengelola emosinya. Individu yang mengalami gangguan mental berat tetap dianjurkan mencari bantuan tenaga profesional agar memperoleh penanganan yang sesuai.