Jakarta, EXPLOREPUBLIC, (24/07/2026) Saat upacara pernikahan, hari raya, atau acara adat lain di Jakarta, baju adat Betawi selalu menjadi pusat perhatian.
Warnanya yang mencolok, bordir yang rapi, hingga potongan bajunya yang khas ternyata bukan sekadar busana, melainkan bukti sejarah bagaimana masyarakat Betawi terbentuk dari percampuran berbagai suku bangsa.
Bagi kaum pria, dikenal dengan nama Baju Sadariah berupa baju koko lengan panjang biasanya berwarna putih atau polos, dipadukan dengan sarung motif kotak-kotak, ditambah peci hitam atau ikat kepala bernama tengkuluk.
Sementara untuk kaum wanita bernama Kebaya Encim, berbahan beludru atau kain bermotif bunga-bunga cerah, dipadukan dengan selendang yang disampirkan di bahu serta perhiasan sederhana namun berkesan mewah.
Menurut pengamat budaya Betawi, pakaian ini terbentuk dari hasil akulturasi. Potongan kebaya dan kainnya mendapat pengaruh Tionghoa, model kerahnya ada sentuhan Arab, sedangkan penggunaan sarung dan ikat kepala adalah ciri budaya Melayu dan Jawa. “Itulah keunikan Betawi.
Kita adalah hasil pertemuan banyak suku yang tinggal di Batavia zaman dulu, lalu menyatu menjadi satu identitas baru,” ujar Dedi, salah satu penggiat budaya di kawasan Setu Babakan.
Sayangnya, seiring makin berkurangnya kawasan pemukiman asli Betawi di tengah hiruk-pikuk pembangunan ibu kota, baju adat ini pun makin jarang dipakai sehari-hari. Kini, ia lebih sering tampil hanya saat pesta rakyat, karnaval, atau perayaan hari besar.
Meski begitu, upaya pelestarian terus dilakukan mulai dari sanggar tari hingga perajin pakaian adat yang tak henti memperkenalkannya kepada generasi muda, agar ciri khas Jakarta ini tak hilang tertelan zaman.