Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC — (03/07/2026) — Salah satu mahasiswa Universitas Universitas Malikussaleh, Zahra Naila Hasty (18) merupakan mahasiswa yang berasal dari luar daerah Aceh mengungkapkan sedikit merasa kesulitan memahami bahasa lokal yang biasa digunakan sebagai percakapan sehari-hari, mulai dari intonasi dan gaya bahasa yang berbeda akhirnya Zahra memutuskan belajar bahasa Aceh melalui teman dekatnya Magfirah (18) yang merupakan warga lokal Aceh.
Aktivitas belajar ini telah dia lalukan dari semester awal perkuliahan, mulai dari belajar kosa kata sehari-hari, hingga cara pengucapan kata-kata yang benar. Momen belajar ini Zahra lakukan di waktu yang senggang sehingga tidak mengganggu waktu belajar atau kegiatan lain, minimnya tekanan dalam belajar bahasa baru membuatnya lebih memahami dan menikmati prosesnya.
Proses belajar bahasa yang berlangsung secara langsung dan personal ini menjadi salah satu cara adaptasi yang dipilih di lingkungan kampus Universitas Malikussaleh. Tanpa perlu mengikuti kelas bahasa formal, pertukaran pengetahuan kebahasaan semacam ini terjadi secara spontan, mengikuti alur percakapan dan kebutuhan komunikasi yang muncul saat itu juga.
Zahra (19) mengungkapkan “Awalnya susah paham karena pengucapannya terlalu cepat dan susah dipahami, ternyata kalau sudah paham jadi ngga terlalu cepat”. Menurut Zahra Belajar bahasa Aceh menambah pengetahuan tentang bahasa daerah yang dimilikinya, sehingga dapat membantunya beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya.