Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC — (30/06/2026) Bagi mahasiswa perantau, bangku perkuliahan bukan satu-satunya tempat untuk beradaptasi. Di luar kelas, meja-meja warung kopi dan tempat nongkrong justru menjadi "ruang kelas" informal yang dinilai efektif untuk mempelajari bahasa daerah demi mempercepat proses membaur dengan lingkungan.

Langkah inilah yang diambil oleh Naiya Shakira (18), mahasiswi perantau asal Binjai yang kini menempuh studi di Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe. Sadar bahwa komunikasi adalah kunci utama bertahan hidup di daerah perantauan, Naiya memilih aktif berkumpul dengan teman-temannya yang berasal dari Aceh sejak semester awal.

“Kalau cuma mengandalkan bahasa Indonesia di kampus ataupun di sekitar kos memang bisa, tapi rasanya tetap ada jarak gitu kalau lagi kumpul santai. Merasa kayak kurang nyambung aja, makanya saya sengaja sering ikut nongkrong sama anak-anak asli sini biar terbiasa dengar logat dan kosakata lokal dan bisa belajar bahasa daerah sini juga,” ujar Naiya saat ditemui di kampus Unimal Bukit Indah, Selasa (30/06/2026).

Menurutnya belajar di tongkrongan jauh lebih cepat dipahami dibandingkan belajar secara formal. Melalui obrolan-obrolan ringan dan candaan sehari-hari bersama teman-temannya, ia bisa langsung mempraktikkan kosakata baru yang didengarnya.

Kini, setelah hampir dua semester Naiya rajin membaur di tongkrongan, ia sudah tidak lagi merasa kebingungan dan jarak komunikasi mereka sudah semakin nyambung. Ia tidak lagi merasa menjadi orang asing di lingkungan barunya.