Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC – Tren membeli pakaian hanya untuk kebutuhan konten media sosial semakin banyak ditemukan di kalangan generasi muda. Kebiasaan tersebut memicu perdebatan mengenai batas antara ekspresi diri dan perilaku konsumtif.
Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya penggunaan platform media sosial yang mendorong pengguna menampilkan penampilan berbeda pada setiap unggahan. Tidak sedikit orang membeli pakaian baru hanya untuk dipakai sekali sebelum disimpan atau bahkan tidak digunakan kembali.
Pengamat perilaku konsumen menilai kebiasaan tersebut menjadi bagian dari budaya digital yang menempatkan citra visual sebagai nilai utama. Tekanan untuk selalu tampil menarik membuat sebagian pengguna merasa harus terus mengikuti tren yang berubah cepat.
Salah satu mahasiswa, Asila (20), mengaku pernah merasakan dorongan serupa saat aktif mengunggah konten di media sosial. Menurutnya, keinginan tampil berbeda sering kali muncul karena khawatir dianggap membosankan oleh pengikutnya.
“Kadang kita merasa harus memakai baju yang berbeda di setiap unggahan. Padahal, orang lain belum tentu memperhatikan sedetail itu. Kalau terus mengikuti tren, pengeluaran juga jadi lebih besar,” ujar Asila saat diwawancarai.
Asila menambahkan bahwa kini ia mulai memilih membeli pakaian yang mudah dipadukan dan dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. Baginya, kualitas dan fungsi pakaian jauh lebih penting dibandingkan mengejar tren yang hanya bertahan sesaat.
Di sisi lain, pelaku industri fesyen memanfaatkan perubahan perilaku tersebut dengan menghadirkan koleksi baru dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat tren berganti lebih cepat dan mendorong masyarakat untuk terus membeli produk terbaru.
Sejumlah pemerhati lingkungan mengingatkan bahwa meningkatnya konsumsi pakaian turut berkontribusi terhadap bertambahnya limbah tekstil. Mereka mengajak masyarakat untuk menerapkan pola belanja yang lebih bijak, seperti menggunakan kembali pakaian yang dimiliki, bertukar pakaian, atau membeli produk yang lebih tahan lama.
Fenomena membeli pakaian demi konten menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya mengubah cara seseorang berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi keputusan konsumsi. Di tengah derasnya arus tren digital, kesadaran untuk berbelanja sesuai kebutuhan dinilai menjadi langkah penting agar gaya hidup tetap seimbang.