Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC – Pola konsumsi mahasiswa mulai mengalami perubahan dalam beberapa waktu terakhir. Jika sebelumnya banyak mahasiswa lebih sering membeli makanan di luar atau memesan secara daring, kini semakin banyak yang memilih memasak sendiri sebagai cara menghemat pengeluaran sekaligus memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.

Perubahan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya harga kebutuhan pokok dan biaya hidup. Mahasiswa, khususnya yang tinggal di kos, mulai menyusun anggaran bulanan dengan lebih cermat agar kebutuhan tetap terpenuhi hingga akhir bulan. Memasak sendiri dinilai menjadi salah satu langkah yang efektif untuk mengurangi pengeluaran harian.

Selain faktor ekonomi, kemudahan memperoleh inspirasi resep melalui media sosial juga mendorong kebiasaan baru ini. Beragam konten memasak dengan bahan sederhana dan biaya terjangkau membuat mahasiswa semakin tertarik mencoba mengolah makanan sendiri di tempat tinggal mereka.

Salah seorang mahasiswa di Lhokseumawe, Fanny (19), mengaku sejak beberapa bulan terakhir lebih sering memasak dibanding membeli makanan siap saji. Menurutnya, memasak tidak hanya membantu menghemat uang, tetapi juga membuat menu yang dikonsumsi lebih sehat dan sesuai selera.

"Kalau dihitung, biaya memasak satu kali bisa lebih murah daripada membeli makanan setiap hari. Sisanya bisa digunakan untuk kebutuhan kuliah atau ditabung," ujarnya.

Meski demikian, tidak semua mahasiswa sepenuhnya meninggalkan kebiasaan membeli makanan di luar. Sebagian masih memilih membeli makanan ketika jadwal kuliah padat atau tidak memiliki waktu untuk memasak. Namun, mereka tetap berusaha membatasi pengeluaran agar kondisi keuangan tetap stabil.

Fenomena ini menunjukkan bahwa mahasiswa mulai lebih bijak dalam mengatur pola konsumsi. Peralihan dari kebiasaan jajan ke memasak sendiri menjadi bentuk adaptasi terhadap kondisi ekonomi sekaligus mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan keuangan sejak usia muda.