Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC – Anime Death Note masih menjadi salah satu serial animasi Jepang yang terus diperbincangkan penggemar karena mengangkat persoalan moral dan keadilan dari dua sudut pandang berbeda. Melalui konflik antara Light Yagami dan detektif L, anime ini mengajak penonton mempertanyakan kembali makna keadilan serta batas antara kebenaran dan penyalahgunaan kekuasaan.
Death Note mengisahkan Light Yagami, pelajar berprestasi yang menemukan buku supernatural bernama Death Note. Buku tersebut mampu membunuh siapa pun yang namanya ditulis di dalamnya. Light lalu menggunakan kekuatan itu untuk menghabisi para pelaku kejahatan demi menciptakan dunia baru yang bebas dari kriminalitas. Di sisi lain, detektif L berusaha menghentikan tindakan Light karena menganggap tidak seorang pun berhak menentukan hidup dan mati seseorang di luar proses hukum.
Konflik tersebut menjadikan Death Note lebih dari sekadar anime misteri dan psikologis. Light mewakili pandangan bahwa kejahatan harus diberantas dengan cara apa pun demi ketertiban, sementara L mempertahankan prinsip bahwa keadilan harus ditegakkan melalui hukum dan tidak boleh berada di tangan satu individu.
Perdebatan mengenai “keadilan ala Light” memicu beragam pendapat di kalangan penonton. Menurut Risfi (19), mahasiswa, tindakan di luar hukum memang tidak adil secara hukum, tetapi bisa dianggap adil dari sisi kemanusiaan ketika sistem hukum gagal berfungsi.
“Sebenarnya dari perspektif aku sendiri tindakan di luar hukum seperti membunuh korbannya bersalah sebenarnya tidak adil di mata hukum tapi adil di mata manusia yang merasakan ‘empati’. Ketika hukum gagal dikarenakan sistemnya yang sudah rusak, maka mau tidak mau pasti akan ada satu atau segelintir orang yang akan maju untuk membela keadilan,” ujarnya.(19/06/2026)
Berbeda dengan Risfi, Diki (22), penggemar Death Note, menegaskan bahwa main hakim sendiri tetap tidak dapat dibenarkan meski tujuannya demi keadilan. Ia menekankan pentingnya menyerahkan penyelesaian kepada pihak berwenang sesuai aturan yang berlaku di negara.
“Kalau hukum sering gagal hukum penjahat kita ga bisa main hakim sendiri walaupun demi keadilan karena negara kita punya aturan yang sah. Walaupun demi keadilan juga kita bisa tindakan pelanggaran karena main hakim sendiri jadi tindakan diluar hukum demi keadilan tidak boleh dilakukan biar pihak yang berwajib menyelesaikan masalah,” katanya.(19/06/2026)
Terkait sosok yang lebih berbahaya, kedua narasumber sepakat bahwa orang yang yakin dirinya selalu benar memiliki potensi risiko lebih besar. Risfi menilai Light tidak dapat membedakan benar dan salah karena delusi terhadap dunia impiannya. Senada dengan itu, Diki menilai orang yang merasa selalu benar tidak memahami batasan dan sulit menerima kesalahan.
“Menurutku lebih berbahaya orang yang yakin dirinya sendiri benar sebab mereka gatau batasan suatu hal, mereka gatau kalau dirinya salah. Mau dijelasin secara logika juga mereka ga bakal ngerti. Sedangkan orang yg jahat tau dirinya jahat dia masih bisa mikir aku salah aku ngelakuin ini Cuma dia gamau ketangkep aja. Dan juga orang jahat tau jahat masih bisa tobat. Sedangkan orang yg selalu benar kayak Light bakal selalu berpikir kalau dia udah ngelakuin hal yang bener jadi lebih berbahaya orang yang yakin dirinya selalu benar kayak Light,” jelas Diki.
Kedalaman tema moral, konflik psikologis, dan pertarungan ideologi antara kedua tokoh menjadikan Death Note sebagai salah satu anime yang tetap relevan hingga saat ini. Melalui kisahnya, anime tersebut menunjukkan bahwa keadilan tidak selalu dipandang dari satu sisi, melainkan dapat memiliki makna berbeda tergantung nilai dan prinsip yang diyakini setiap individu.