Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC — (29/06/2026)  Perbedaan bahasa sering kali menjadi kendala utama bagi mahasiswa perantau saat memulai perkuliahan di lingkungan baru. Di tengah tantangan adaptasi tersebut, kehadiran mahasiswa lokal yang peduli menjadi jembatan penting untuk mengikis sekat komunikasi.

Fenomena ini dirasakan langsung oleh Lita Seteni (18), seorang mahasiswi asal Langkat yang kini menempuh pendidikan tinggi di Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe. Pada bulan-bulan awal perkuliahan, ia mengaku sering mengalami kendala saat berkomunikasi di luar kelas. “Awalnya cukup sulit karena penggunaan bahasa daerah di sini sangat kental. Kadang kalau lihat orang berinteraksi pakai bahasa daerah jadi bingung sendiri mereka lagi bahas apa, takut digosipin juga. Makanya kadang saya sering minta ajarin bahasa Aceh sama sahabat saya yang berasal dari daerah sini juga. Jadi sekarang saya tidak takut lagi kalau diajak nongkrong, karena sekarang sudah ada kamus berjalan yang siap menerjemahkan,” ujarnya saat ditemui di kampus Unimal Bukit Indah pada Senin (29/06/2026).

Inisiatif Lita untuk bertanya dan belajar bahasa daerah dengan sahabatnya ini mendapat sambutan baik dari sahabatnya. Fina (19), mahasiswi lokal yang menjadi sahabat Lita di kampus, mengaku sangat menghargai usaha sahabat rantaunya untuk belajar bahasa Aceh. “Saya merasa senang kalau ada anak rantau yang mau bergaul sama orang-orang asli sini dan mau nanya-nanya arti bahasa sini. Saya jugajadi merasa dibutuhkan dan saya juga bangga bisa mengenalkan bahasa daerah sini ke dia,” kata Fina.

Peran Fina sebagai “kamus berjalan” diakui Lita telah membuahkan hasil yang nyata. Mahasiswi perantau tersebut mengaku kini ia mulai memahami dan menguasai beberapa istilah lokal yang kerap terdengar dalam interaksi sehari-hari, baik saat berada di area kampus Universitas Malikussaleh maupun di lingkungan tempat tinggal sementaranya.

Bagi Lita, kepedulian dan solidaritas yang ditunjukkan oleh sahabat lokalnya itu menjadi bukti nyata bahwa proses adaptasi budaya tidak harus dilalui dengan penuh kecemasan. Ia merasa, kehangatan antarsesama mahasiswa inilah yang justru mempercepat langkahnya untuk membaur, sekaligus menciptakan ruang lingkup kampus yang lebih inklusif dan ramah bagi para perantau.