Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC - Cerita rakyat Sunda "Lutung Kasarung" dinilai masih sangat relevan hingga saat ini. Kisah klasik yang dibahas pada Kamis (25/06/2026) tersebut menyoroti konflik takhta Kerajaan Pasir Batang.
Sazni (20), mahasiswi Unimal Lhokseumawe, menyatakan,
"Legenda Lutung Kasarung mengajarkan kita untuk tidak boleh menilai seseorang dari luarnya saja, tetapi juga dari dalamnya. Paras bagus tidak menjamin hatinya bagus."
Gagasan itu menjadi inti cerita saat Prabu Tapak Agung memilih putri bungsunya, Purbasari, sebagai penerus. Keputusan tersebut mendobrak adat yang seharusnya menempatkan putri sulung, Purbararang, sebagai pewaris takhta.
Raja menilai Purbararang memiliki tabiat buruk yang dapat menyengsarakan rakyat. Sebaliknya, Purbasari dikenal sangat bijaksana dan berhati mulia, sehingga kepemimpinannya diyakini akan membawa kesejahteraan bagi seluruh kerajaan.
Didasari rasa iri, Purbararang bersama tunangannya mengutuk Purbasari dengan penyakit kulit menular. Ia lalu menghasut sang raja untuk membuang adiknya ke tengah hutan belantara yang sangat jauh.
Di dalam hutan, Purbasari bertemu seekor lutung seram yang merupakan pangeran terkutuk. Berkat ketulusan makhluk tersebut, penyakit Purbasari akhirnya sembuh total hingga ia bisa kembali lagi ke istana.
Purbararang yang terkejut segera menantang adiknya lewat sayembara licik demi mempertahankan takhta. Namun, Purbasari berhasil memenangkan persaingan tersebut berkat kesabaran, kebijaksanaan, serta keteguhan hati yang luar biasa.
Meski berhak menghukum kakaknya yang culas, Purbasari memilih untuk memaafkan Purbararang. Sikap mulia sang pemimpin baru ini memberikan pesan moral yang mendalam bagi masyarakat yang mempelajari kisah tersebut.