Sleman, Exsplorepublic - Sebuah keluarga di Sleman sukses menggelar upacara adat Tingkeban atau syukuran tujuh bulanan kehamilan pada Sabtu (10/05/2025). Acara ini digelar terbatas dengan dihadiri sekitar 30 hingga 40 orang yang terdiri dari keluarga inti, keluarga besar, tetangga, serta kerabat dekat.

Acara Tingkeban tujuh bulanan merupakan tradisi selamatan adat Jawa yang diselenggarakan ketika usia kehamilan memasuki bulan ketujuh. Tujuan utama pelaksanaan acara ini adalah sebagai wujud syukur atas kehamilan, memohon keselamatan dan kesehatan bagi ibu serta calon bayi, dan mendoakan kelancaran proses persalinan.

Pemimpin upacara dalam tradisi ini biasanya adalah dukun bayi atau modin. Penyelenggaraan umumnya dilakukan di rumah karena dinilai lebih efisien, meskipun sebagian masyarakat juga menyelenggarakannya di gedung atau balai warga.

Rangkaian acara Tingkeban dilaksanakan secara runtut sebagai berikut. Acara dimulai jam 9 pagi acara pertama, ibu hamil duduk di kursi untuk disirami air kembang yang berasal dari tujuh sumber berbeda.

Memasuki jeda siang hingga sore, ibu-ibu tetangga dan keluarga bergotong royong memasak. Mereka menyiapkan hidangan untuk acara kenduri yang akan dibagikan kepada para tamu undangan.

Selepas salat Magrib dan Isya, acara inti ditutup khidmat. Seluruh hadirin bersama-sama melakukan pembacaan doa keselamatan, Surat Yasin, serta menikmati hidangan kenduri yang telah disediakan.

Upacara Tingkeban yang digelar hingga malam itu ditutup dengan suasana khidmat dan penuh haru. Bagi keluarga di Sleman, acara ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud syukur dan doa bersama agar ibu serta calon bayi senantiasa diberi kesehatan, serta kelancaran hingga proses persalinan tiba.