Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC - (Jum’at 31/07/2026) Di tengah tumpukan barang belanjaan kebutuhan harian, mayoritas dari mereka tidak lagi merogoh dompet untuk mengambil uang tunai. Ponsel pintar di genggaman langsung diarahkan ke layar mesin pembayaran untuk memindai kode QRIS.
Memasuki penghujung bulan, fenomena ini menjadi pemandangan yang makin lumrah. Mahasiswa yang dihadapkan pada pengetatan anggaran saku mulai memutar otak agar kebutuhan harian tetap terpenuhi tanpa menguras sisa tabungan. Salah satu langkah cepat yang diambil adalah beralih sepenuhnya ke metode pembayaran digital.
Bagi mahasiswa, penggunaan dompet digital bukan sekadar mengejar kepraktisan atau gaya hidup modern semata. Fitur riwayat transaksi otomatis yang tersedia di aplikasi dompet digital menjadi alasan utama. Melalui pencatatan real-time tersebut, mahasiswa dapat memantau setiap rupiah yang keluar secara lebih rinci dan terukur. Selain itu, maraknya penawaran potongan harga (cashback) dan promo khusus transaksi nontunai di kawasan sekitar kampus turut membantu menekan pengeluaran konsumsi harian.
Penerapan sistem transaksi nontunai ini pada akhirnya menjadi strategi adaptasi finansial yang cukup ampuh. Di tengah tingginya beban biaya akademis seperti cetak tugas, beli buku, dan kebutuhan kuliah lainnya, fleksibilitas pembayaran digital memberi ruang bagi mahasiswa untuk tetap bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan pokok dan aktivitas sosial harian secara lebih efisien.