Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC — (10/07/2026) – Di tengah maraknya hiburan di media sosial, kesenian tradisional Jaran Kepang masih tetap menjadi pilihan hiburan masyarakat. Seni pertunjukan yang menggunakan properti kuda tiruan dari anyaman bambu dan ritme gamelan yang dinamis ini, memikat perhatian generasi muda, termasuk Generasi Z untuk menontonnya dalam berbagai festival budaya maupun pementasan tingkat desa.
Ketertarikan anak muda terhadap seni tradisional ini terlihat dari pengakuan salah satu penonton di kalangan Generasi Z, Suci (22), salah seorang warga Kabupaten Asahan, Sumatera Utara yang menyatakan pendapatnya melalui pesan teks WhatsApp pada Kamis (09/07/2026).
Ia mengaku sering meluangkan waktu untuk menonton Jaran Kepang jika ada pementasan di sekitar tempat tinggalnya.
“Aku suka menonton karena musik pengiringnya terasa hidup dan tradisional banget. Gerakan penarinya juga indah dan menarik perhatian. Hal itu menunjukkankalau kesenian ini sangat baik untuk ditonton semua kalangan, sekaligus menjadi pengingat bahwa kesenian tradisional itu menarik dan harus dilestarikan,” jelas
Suci melalui pesan WhatsApp.
Menurut Suci, Jaran Kepang memiliki nilai estetika dan ketegangan pertunjukan yang tidak bisa digantikan oleh hiburan modern di handphone atau bioskop. Atraksi-atraksi menggunakan topeng-topeng dan juga reog yang ditampilkan para penari justru menjadi pembeda utama yang menarik rasa penasarannya dan membuatnya ingin selalu menonton kesenian itu.
Eksistensi Jaran Kepang di kalangan Generasi Z ini, juga tidak lepas dari peran media sosial. Banyak kelompok seni kini aktif memanfaatkan platform seperti TikTok, Instagram dan Facebook untuk menyebarkan jadwal pementasan hingga potongan video atraksi yang menarik.
Suci menyatakan bahwa ia sering mendapatkan informasi mengenai pementasan Jaran Kepang melalui postingan TikTok yang lewat berandanya ataupun melalui story WhatsApp temannya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesenian tradisional seperti Jaran Kepang tidak selalu dinilai kuno oleh generasi muda. Melalui adaptasi penyebaran informasi yang cepat dan mempertahankan keindahan pertunjukannya, budaya lokal terbukti mampu bertahan dan tetap diminati oleh Generasi Z di era digital.