Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC — (04/07/2026) Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan pengaruh budaya global, penggunaan bahasa daerah di kalangan mahasiswa mulai mengalami perubahan. Sebagian mahasiswa masih aktif menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, sementara sebagian lainnya lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia karena dianggap lebih praktis dan mudah dipahami oleh teman dari berbagai daerah.
Mahasiswa umumnya masih menggunakan bahasa daerah saat berkomunikasi dengan keluarga di rumah atau dengan teman yang berasal dari daerah yang sama. Namun, ketika berada di lingkungan kampus, penggunaan bahasa Indonesia lebih dominan agar komunikasi dapat berlangsung dengan lancar.
Pada Jumat (04/07/2026) di Desa Bathupat Barat, Kota Lhokseumawe, salah satu narasumber, Afifah Syahira, mahasiswi semester VI Program Studi Ilmu Komunikasi, mengatakan bahwa dirinya tetap menggunakan bahasa daerah saat berbicara dengan keluarga dan teman sekampung.
"Bahasa daerah adalah identitas dan bagian dari budaya yang harus dijaga. Walaupun di kampus lebih sering memakai bahasa Indonesia, saya tetap menggunakan bahasa daerah ketika berada di rumah atau bertemu teman yang berasal dari daerah yang sama," ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Gara Aresta, mahasiswa semester IV, yang menilai penggunaan bahasa daerah mulai berkurang di kalangan generasi muda. "Sekarang banyak mahasiswa yang lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa gaul. Padahal, kalau bahasa daerah jarang dipakai, lama-kelamaan bisa hilang," katanya.
Meski menghadapi tantangan akibat modernisasi, banyak mahasiswa yang menyadari bahwa bahasa daerah merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga, organisasi, maupun kegiatan budaya menjadi salah satu langkah nyata agar bahasa tersebut tetap hidup di tengah perkembangan zaman.