Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC, (23/07/2026) Pakaian adat Batak Toba yang berasal dari kawasan Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara, masih digunakan dalam berbagai upacara adat. Busana ini terdiri atas ulos, sortali (ikat kepala), hande-hande (selempang), ampe-ampe (kain bawahan), dan aksesori adat yang melambangkan penghormatan, doa, serta identitas masyarakat Batak Toba.

Pakaian adat tersebut dikenakan pada acara pernikahan, mangulosi, saur matua, penyambutan tamu, hingga kegiatan budaya. Setiap bagian busana memiliki makna tersendiri sehingga penggunaannya disesuaikan dengan aturan adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Wawancara dilakukan di area Kampus Universitas Malikussaleh (Unimal), Lhokseumawe, bersama Alika Hutabarat (19), salah satu mahasiswa Batak Toba yang sejak kecil diajarkan budaya oleh orang tua dan keluarganya. Menurutnya, penggunaan ulos, sortali, hande-hande, dan ampe-ampe bukan sekadar pelengkap busana, tetapi juga memiliki nilai filosofi yang mendalam.

"Sejak kecil saya diajarkan orang tua untuk mengenal budaya Batak Toba, termasuk cara memakai ulos, sortali, hande-hande, dan ampe-ampe. Orang tua selalu menjelaskan bahwa ulos melambangkan kasih sayang, doa, dan berkat, sedangkan perlengkapan lainnya mencerminkan kehormatan dan identitas orang Batak. Saya berharap generasi muda tetap bangga mengenakan pakaian adat Batak Toba agar budaya ini terus terjaga," ujar Alika Hutabarat.

Pelestarian pakaian adat Batak Toba menjadi tanggung jawab bersama. Dengan terus memperkenalkan makna setiap bagian busana kepada generasi muda melalui kegiatan budaya dan pendidikan, warisan budaya Batak Toba diharapkan tetap lestari di tengah perkembangan zaman.