Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC, (25/07/2025) Pakaian adat Ule Balang bukan sekadar busana, melainkan identitas yang menyimpan nilai sejarah tinggi bagi masyarakat Aceh, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir dan pedalaman.

Busana ini dulunya hanya dipakai oleh kalangan pemuka agama, pemimpin adat, serta keluarga kerajaan pada masa kesultanan, namun kini menjadi kebanggaan yang ditampilkan dalam acara besar seperti pernikahan, penyambutan tamu kehormatan, hingga pesta rakyat.

Secara tampilan, Ule Balang untuk pria terdiri dari kain songket berwarna emas atau merah marun yang dililitkan rapi di badan, dilengkapi dengan ikat kepala khas yang disebut ule balang sendiri, serta keris yang diselipkan di pinggang.

Sementara untuk wanita, busana ini dipadukan dengan kain songket berhias motif bunga atau geometris, selendang yang jatuh anggun di bahu, serta perhiasan emas yang melambangkan kemakmuran dan kesucian.

Masyarakat setempat meyakini setiap bagian dari pakaian ini memiliki makna mendalam. Warna emas melambangkan kemuliaan dan kebesaran jiwa rakyat Aceh, sedangkan motif yang terjal dengan tangan melambangkan persatuan dan kerja keras leluhur dalam menjaga negeri.

Meski zaman terus berubah, generasi muda Aceh kini mulai giat mengenalkan kembali Ule Balang lewat berbagai pementasan budaya hingga peragaan busana. Hal ini dilakukan agar warisan tak ternilai ini tidak hilang tergerus waktu, serta tetap menjadi bukti nyata kekayaan budaya yang dimiliki tanah rencong.