Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC, Kamis (23/07/2026) – Film Avatar: Fire and Ash yang dirilis pada 17 Desember 2025 merupakan kelanjutan dari Avatar: The Way of Water. Film ini melanjutkan kisah keluarga Jake Sully dan Neytiri yang berjuang menghadapi trauma setelah kehilangan putra mereka, Neteyam.

Kehilangan tersebut memunculkan konflik dalam keluarga Sully. Rasa bersalah yang dirasakan Jake dan Lo'ak atas kepergian Neteyam menjadi salah satu konflik emosional yang mewarnai perjalanan cerita. Selain itu, film ini juga menghadirkan konflik baru yang memperluas kisah dunia Pandora.

Konflik baru muncul melalui Klan Mangkwan atau Ash Clan. Berbeda dengan klan Na'vi lainnya, kelompok ini hidup di kawasan vulkanik, tidak mempercayai Eywa, dan dipimpin oleh Varang. Kehadiran klan tersebut memberikan warna baru dalam alur cerita film.

Dalam film ini, Klan Mangkwan bekerja sama dengan Kolonel Quaritch, antagonis dari film sebelumnya yang kembali hadir. Kerja sama tersebut menjadi ancaman baru bagi keluarga Sully dan klan Na'vi lainnya. Selain itu, cerita film ini juga lebih banyak disampaikan melalui sudut pandang Lo'ak sebagai putra Jake Sully.

Selain menyajikan konflik, film ini juga menampilkan panorama Planet Pandora yang menjadi salah satu daya tarik utama. Pemandangan alam yang disajikan dipadukan dengan cerita mengenai keluarga, persatuan, serta hubungan antara manusia dan alam.

Saat diwawancarai, Marcella Indriani (20), penggemar film Avatar, menilai kualitas visual Fire and Ash mengalami peningkatan dibandingkan film sebelumnya. Menurutnya, penyajian dunia Pandora terasa lebih hidup sehingga memberikan pengalaman menonton yang lebih menarik.

"Visualnya jelas lebih baik. Film sebelumnya juga bagus, tetapi menurut saya bagian akhirnya sedikit kurang," ujar Marcella. Penilaian tersebut menunjukkan perkembangan kualitas produksi yang semakin memanjakan penonton.

Marcella juga mengaku hampir seluruh adegan dalam film meninggalkan kesan mendalam, terutama saat menampilkan panorama Pandora. Baginya, keindahan visual yang ditampilkan membuat penonton seolah ikut menjelajahi dunia fantasi tersebut.

"Sebagai penyuka genre fantasi, saya benar-benar menikmati pemandangan di Pandora. Rasanya ingin ikut masuk dan mengeksplorasi dunia itu," katanya.

Selain kualitas visual, Marcella juga menilai film ini menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga alam dan menghargai setiap bentuk kehidupan. Menurutnya, kerusakan terhadap satu ekosistem dapat memengaruhi keseimbangan lingkungan secara keseluruhan sehingga manusia perlu memiliki kepedulian terhadap alam.

Ia juga mengaku film tersebut mengubah cara pandangnya mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Menurutnya, setiap makhluk hidup memiliki hak untuk mempertahankan kehidupannya dan menjaga kelompoknya agar keseimbangan alam tetap terpelihara.

Melalui kualitas visual yang memikat, cerita emosional, dan pesan lingkungan yang kuat, Avatar: Fire and Ash menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton lebih menghargai alam dan seluruh kehidupan di dalamnya.