Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC (30/07/2026) – Di sederetan alat musik tradisional Sumatera Barat, Seluang menempati tempat istimewa sebagai seruling bambu yang menjadi jiwa dari banyak pertunjukan seni rakyat.

Alat musik ini telah melekat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau sejak ratusan tahun lalu, menyertai berbagai peristiwa penting mulai dari upacara adat hingga hiburan sehari-hari.

Seluang terbuat dari ruas bambu yang dipilih secara khusus, dilubangi empat hingga enam lubang nada. Cara memainkannya membutuhkan teknik napas yang khas, menghasilkan suara yang jernih namun mendayu, sering kali mengiringi dendang pantun, tarian, hingga cerita lisan masyarakat.

Berbeda dengan seruling pada umumnya, Seluang kerap dimainkan secara berkelompok atau bersahutan dengan alat musik lain seperti saluang dan talempong. Seiring berjalannya waktu, minat generasi muda untuk mendalaminya mulai menipis seiring masuknya aliran musik modern.

“Seluang bukan sekadar alat musik, melainkan sarana penyampaian pesan, nasihat, dan cerita leluhur. Sayangnya kini yang pandai memainkannya hanya segelintir orang tua,” ujar Eri Yulizar, penggiat seni budaya Minangkabau.

Komunitas seni dan pemerintah daerah terus berupaya menggelar pelatihan serta memasukkan Seluang ke dalam kurikulum muatan lokal. Langkah ini diambil agar suara khas Seluang tetap bergema dan menjadi bukti nyata kekayaan budaya Minangkabau yang tak tergantikan.