Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC — (11/07/2026) Di tengah gempuran budaya modern, masyarakat Kenagarian Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, masih setia menjaga salah satu warisan leluhur mereka: Tari Salapan. Tarian ini dimainkan oleh delapan penari yang menggunakan media berupa juntaian kain sejumlah delapan helai yang digantungkan di bagian atas ruangan atau tempat tari tersebut diperagakan, lalu dijalin membentuk anyaman yang rapi.
Nama "salapan" sendiri berarti delapan, sesuai jumlah penari maupun untaian kain yang dipakai. Setiap gerakan yang dibawakan menuntut kerja sama erat antarpenari, sebab satu gerak yang keliru saja akan memengaruhi hasil keseluruhan anyaman kain yang terbentuk. Karena itu, tarian ini bukan sekadar tontonan, melainkan juga simbol kekompakan dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Farhan Rhamadhan Figna (21) yang merupakan salah satu anggota dari Tari Salapan pada saat mewakili sekolah dalam acara lomba di Air Bangis kampung halamannya mengungkapkan rasa tekanan saat menampilkan tarian salapan “tariannya dibilang susah sih ngga, di bilang gampang juga engga, karena waktu latihan kerasa gampang, cuma waktu tampil kerasa pressure.”
Tari Salapan bukan sekadar tontonan, melainkan cermin identitas dan nilai luhur leluhur mereka. Di tengah derasnya arus budaya luar, masyarakat setempat tetap berupaya melestarikan tarian ini agar tidak punah, sebagaimana pesan yang terkandung di dalamnya: bahwa persatuan, sekecil apa pun perannya, akan selalu terjalin rapi jika setiap orang bergerak selaras satu sama lain.