Bireuen, EXPLOREPUBLIC — (10/07/2026) Sanggar Pocut Meurah Inseun menampilkan Tari Rampak dalam sebuah pertunjukan seni di Lapangan Merdeka, Medan, Senin (29/6/2026). Penampilan tersebut menjadi wujud pelestarian budaya Aceh melalui perpaduan beberapa tarian tradisional dalam satu pertunjukan.
Dalam bahasa Aceh, rampak berarti “banyak” atau “bersama-sama”. Makna tersebut tercermin dalam konsep tari yang menggabungkan empat ragam gerak tari tradisional Aceh menjadi satu penampilan yang utuh dan harmonis.
Tari Rampak diawali dengan hentakan khas Tari Seudati, kemudian dipadukan dengan gerakan Ratoh Jaroe, Laweut, serta riak Zapin Aceh. Perpaduan tersebut menghadirkan variasi gerak yang menggambarkan kekuatan, kekompakan, dan keberagaman budaya Aceh.
Al Ghaly (19), salah seorang penampil dari Sanggar Pocut Meurah Inseun, mengatakan bahwa persiapan pertunjukan dilakukan melalui latihan intensif selama kurang lebih dua bulan agar setiap gerakan dapat ditampilkan secara serasi.
“Kami berlatih selama sekitar dua bulan untuk menyatukan empat karakter tari yang berbeda dalam satu penampilan. Prosesnya cukup menantang, tetapi hasilnya sepadan karena kami dapat menampilkan Tari Rampak dengan kompak di hadapan penonton,” ujarnya.
Menurut Al Ghaly, perpaduan beberapa tarian tradisional dalam Tari Rampak tidak hanya memberikan variasi gerakan, tetapi juga memperlihatkan kekayaan seni tari Aceh yang tetap dapat dikemas secara kreatif tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Penampilan tersebut mendapat perhatian masyarakat yang memadati Lapangan Merdeka. Melalui Tari Rampak, Sanggar Pocut Meurah Inseun menunjukkan bahwa inovasi dalam seni pertunjukan dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya Aceh kepada masyarakat yang lebih luas.