Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC — (24/06/2026)  Memasuki perkuliahan di kota orang sering kali menjadi tantangan berat bagi mahasiswa baru. Jauh dari orang tua, hilangnya lingkungan pertemanan lama, hingga kewajiban untuk mandiri secara mendadak sering kali memicu homesick. Bagi mahasiswa rantau, homesick merupakan hal yang tidak dapat dihindari di awal-awal perkuliahan. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa mengganggu fokus belajar di awal semester.

Fase ini dialami langsung oleh Fanisa Elvariyani Surbakti (19), Mahasiswi Ilmu Komunikasi asal Binjai yang kini berkuliah di Lhokseumawe. Fanisa mengaku, pada satu bulan pertama ia sempat merasa stres karena lingkungan barunya terasa sangat asing.

Menurutnya, minggu-minggu pertama adalah momen paling berat karena perubahan drastis dari kebiasaannya di rumah. Biasanya sudah ada makanan di meja dan ada canda tawa keluarganya yang terdengar di meja makan, namun di perantauan ia harus mencari makan dan makan sendirian dengan rasa sepi. Bahkan ia mengaku hampir setiap malam menangis karena merindukan suasana rumah.Namun, Fanisa menyadari bahwa terus-menerus meratapi keadaan tidak akan mengobati rasa homesick-nya, justru malah membuat kuliahnya terganggu.

Langkah pertama yang dilakukan Fanisa untuk mengatasi homesick yaitu dengan membatasi durasi menghubungi orang rumah. “Dulu awal-awal kuliah aku selalu menghubungi orang rumah setiap hari, tapi setiap habis video call pasti langsung nangis karena makin kangen rumah jadi sekarang aku sudah mulai mengurangi buat video call orang rumah agar rasa kangennya itu tidak terus-terusan muncul,” ujarnya pada Rabu, 24/06/2026 saat ditemui di Kampus Unimal Bukit Indah.

Selain mengatur komunikasi, Fanisa juga mulai menata ulang kamar kosnya agar terasa lebih familier. Ia sengaja membawa boneka kesayangan dan memajang foto keluarganya di kamar kosnya. Menurutnya, kamar kos yang bersih dan nyaman dan terasa familier akan sangat membantu mengurangi rasa sepi saat pulang kuliah.

Tidak hanya itu, langkah paling manjur yang dirasakan Fanisa adalah dengan keluar dari zona nyamannya untuk mulai bersosialisasi. Ia memilih untuk tidak pulang ke kos setelah jam kuliah selesai. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di kos temannya ataupun pergi ke pantai dan beli ice cream bersama teman-temannya agar tidak selalu merasa kesepian di kos.

Di akhir pekan, ia juga meluangkan waktu untuk mengeksplorasi kota tempatnya merantau, mulai dari berburu kuliner hingga mengunjungi tempat-tempat yang menjadi iconic kota tempatnya tinggal.

Baginya, semakin ia mengenali daerah barunya, rasa asing itu akan terkikis dan berusaha menjadi rasa aman. Ia menegaskan bahwa homesick adalah fase adaptasi yang normal bagi semua perantau. Kuncinya adalah membuka diri, tidak mengurung diri di kamar, dan selalu mengingat tujuan awal datang ke kota perantauan untuk belajar.