Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC – Lemari yang dipenuhi pakaian tidak selalu membuat seseorang mudah menentukan pilihan. Di tengah derasnya tren media sosial, sebagian generasi Z justru mengaku semakin sering kebingungan memilih pakaian sebelum beraktivitas.

Fenomena tersebut dikenal sebagai fashion fatigue, yaitu kondisi ketika seseorang merasa lelah atau kesulitan menentukan pakaian meski memiliki banyak pilihan. Pergantian tren yang berlangsung cepat membuat sebagian anak muda terus membandingkan penampilannya dengan apa yang mereka lihat di media sosial.

Algoritma berbagai platform digital menghadirkan ribuan inspirasi gaya berpakaian setiap hari. Tanpa disadari, kebiasaan itu membentuk anggapan bahwa penampilan harus selalu berbeda agar tetap menarik perhatian.

Fani (19), seorang mahasiswa, mengaku pernah menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memilih pakaian sebelum pergi ke kampus atau bertemu teman. Menurutnya, kebingungan itu bukan karena tidak memiliki baju, melainkan terlalu banyak pilihan yang terasa kurang sesuai.

"Kadang lemari sudah penuh, tetapi rasanya tetap tidak ada yang cocok dipakai. Setelah melihat media sosial, kita jadi ingin tampil seperti orang lain. Padahal, belum tentu mereka memakai baju baru setiap hari," kata Fani saat diwawancarai.

Fani menilai tekanan tersebut tidak selalu datang dari orang lain. Keinginan untuk terlihat rapi, mengikuti tren, dan mendapatkan respons positif di media sosial sering kali muncul dari diri sendiri tanpa disadari.

Pengamat komunikasi digital menyebut paparan konten fesyen yang terus-menerus dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya. Semakin sering membandingkan penampilan dengan standar di media sosial, semakin besar kemungkinan seseorang merasa tidak puas terhadap pakaian yang dimilikinya.

Meski demikian, sejumlah anak muda mulai memilih pendekatan yang lebih sederhana. Mereka mengutamakan pakaian yang nyaman, mudah dipadukan, dan dapat digunakan berulang kali dibanding terus mengikuti tren yang berganti dalam hitungan minggu.

Fenomena fashion fatigue menunjukkan bahwa persoalan fesyen kini tidak lagi sekadar soal pakaian. Di era digital, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan menerima diri sendiri di tengah arus tren yang terus berubah dan ekspektasi yang dibentuk oleh media sosial