Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC – Kesibukan jadwal perkuliahan dan tuntutan akademik sering kali menjadi rutinitas yang melelahkan bagi mahasiswa. Namun, di balik padatnya jadwal akademik, terdapat sebuah fenomena sosial sederhana yang telah menjadi budaya di kalangan mahasiswa, yaitu tradisi makan bersama.
Tradisi makan bersama dapat ditemukan hampir setiap hari di lingkungan kampus, terutama di kantin fakultas. Tidak hanya di kampus, rutinitas serupa juga kerap dilakukan pada akhir pekan di kamar kos mahasiswa yang sering dijadikan sebagai basecamp.
Dalam pandangan orang luar, makan bersama sering kali dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan fisik saja. Padahal, kenyataannya kegiatan ini menyimpan makna esensial, khususnya bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua.
“Makan bersama teman membuat saya tidak merasa kesepian,” ungkap Yani (18), salah satu mahasiswa perantau.
Makan bersama secara tidak langsung menjadi kegiatan untuk mempererat tali silaturahmi dan ikatan emosional antarmahasiswa. Hal ini karena para mahasiswa bebas berekspresi untuk mengungkapkan isi hati dan pikirannya.
Dalam momen kebersamaan ini, selalu ada yang bercerita tentang dinamika kehidupan kampus, beban tugas kuliah, rutinitas yang melelahkan atau bahkan berdiskusi ringan mengenai politik. Hal ini menghilangkan batasan di antara mahasiswa dan menciptakan kerukunan.
“Biasanya pas makan bersama itu ada saja obrolan lucu yang bisa bikin kita lupa sama hal-hal yang tidak mengenakkan sebelumnya,” ujar Sania (18).
Ketika masalah yang dipendam sudah diceritakan, kisah menyenangkan telah dibagikan dan permasalahan didiskusikan, beban pikiran perlahan menguap. Hati dan pikiran mahasiswa akan semakin mudah untuk kembali fokus pada urusan akademik.
Hal tersebut sejalan dengan yang dialami oleh Raisa (18), “Dengan makan bersama, pikiran kita bisa lebih jernih karena semua masalah sudah diceritakan, jadi bisa lebih fokus ke tugas akademik,” tuturnya.
Pada akhirnya, rutinitas makan bersama membuktikan bahwa hal-hal sederhana dapat berdampak besar. Di meja makan yang sederhana, mahasiswa tidak hanya mengisi perut, tetapi juga mengisi kembali energi mental mereka untuk menghadapi kerasnya dunia perkuliahan.