Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC – (17/06/2026) Ritual siraman merupakan tahapan sakral pernikahan adat Jawa. Tradisi memandikan calon mempelai ini melambangkan penyucian lahir batin agar siap memasuki gerbang rumah tangga dengan hati yang bersih.
Pakem adat mewajibkan air dicampur kembang setaman dari tujuh sumber berbeda. Angka tujuh atau pitu bermakna pitulungan, simbol doa meminta pertolongan Tuhan dalam mengaruhi bahtera kehidupan baru.
Penyiraman dilakukan runtut oleh orang tua serta sesepuh. Ritual lalu ditutup prosesi sadeyan dawet oleh ibu, lambang doa agar rezeki keluarga baru tersebut kelak mengalir manis dan lancar.
Nayya (19), perantau asal Medan bersuku Jawa di Lhokseumawe, menegaskan pentingnya anak muda memahami makna ini. Menurutnya, siraman bukan sekadar mandi biasa, melainkan simbol doa sakral bagi masa depan.
“Air tujuh sumber itu ternyata doa buat minta pertolongan hidup. Paham filosofi asli begini bikin kita yang di perantauan tetap merasa dekat dan hormat sama tradisi leluhur,” ujarnya.
Melalui pemahaman yang diwariskan turun temurun, ritual siraman terbukti mampu bertahan. Tradisi ini terus hidup menjadi kompas moral dan identitas budaya yang sangat melekat kuat di hati generasi mudanya.