Aek Kota Batu, Eksplorepublic - (16/03/2026) Tradisi tahlilan bagi orang yang meninggal dunia masih melekat kuat di masyarakat hingga saat ini. Acara ini tidak memiliki batasan usia bagi para peserta, sehingga tidak hanya diikuti oleh bapak bapak, tetapi anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun juga turut berpartisipasi.
Tahlilan umumnya dilaksanakan dengan tujuan untuk mengirimkan doa kepada almarhum atau almarhumah. Pelaksanaan tahlilan telah ditentukan waktunya, yaitu pada malam hari setelah salat Magrib atau Isya, tepatnya pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan peringatan satu tahun meninggal dunia.
Penentuan hari dan waktu tersebut sudah menjadi kebiasaan yang diikuti secara turun-temurun oleh masyarakat. Meskipun tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat bersuku Jawa, namun tahlilan lebih kuat dan mengakar di masyarakat Jawa. Selain waktu pelaksanaannya, lokasi tahlilan juga sudah menjadi kebiasaan.
Acara ini dilakukan di rumah duka, masjid, maupun balai warga, tetapi lebih sering dilakukan di rumah keluarga yang sedang berduka. Dalam pelaksanaannya, para jamaah berkumpul di rumah duka untuk membaca doa dan Surat Yasin yang dipimpin oleh seorang ustaz. Sebagai bentuk penghormatan kepada para jamaah yang hadir, biasanya disediakan hidangan berupa makanan ringan dan minuman.
Salah seorang warga setempat Rafli, mengungkapkan kesannya saat menghadiri acara tahlilan tersebut. Menurutnya, tradisi ini membawa ketenangan tersendiri bagi keluarga yang ditinggalkan.
"Saya melihat sendiri proses acara tahlilan yang dilakukan secara khidmat, khusyuk dan tenang. Apalagi banyak jemaah yang datang beramai-ramai ke rumah duka untuk mengirimkan doa dan Surat Yasin membuat pemilik rumah senang melihatnya karena banyak yang mendoakan almarhum atau almarhumah. Menurut saya tradisi ini sangat bagus karena dapat menjaga silaturahmi dan dapat membantu anak-anak belajar bagaimana caranya beradab dan saling menghargai." ujarnya.
Tradisi ini masih terjaga hingga sekarang di masyarakat Aek Kota Batu dan akan terus diwariskan secara turun-temurun kepada generasi selanjutnya agar tradisi tersebut tidak terputus. Hal ini dikarenakan di dalam tradisi tersebut diajarkan tata cara berperilaku yang baik kepada semua orang, khususnya kepada yang lebih tua.