Aceh Tamiang, EXPLOREPUBLIC - Bukit Kerang di Desa Mesjid, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, menjadi salah satu situs prasejarah di Aceh yang kini dijadikan objek wisata edukasi. Situs yang berada di tengah perkebunan kelapa sawit itu merupakan tumpukan kulit kerang peninggalan manusia purba atau dikenal sebagai kjokkenmoddinger, yaitu sampah dapur manusia prasejarah.
Menurut arkeolog sekaligus dosen Universitas Syiah Kuala, Husaini Ibrahim (65), situs tersebut menjadi bukti adanya kehidupan manusia purba di wilayah Aceh Tamiang sekitar enam ribu hingga sepuluh ribu tahun lalu. Pada masa itu manusia masih hidup secara nomaden dan menjadikan moluska sebagai sumber makanan utama.
Meski memiliki nilai sejarah dan ilmu pengetahuan yang tinggi, kondisi Bukit Kerang saat ini dinilai kurang terawat. Akses menuju lokasi cukup sulit karena harus melewati jalan berbatu dan jembatan kayu sederhana. Selain itu, sebagian pagar situs sudah rusak dan area sekitar dipenuhi rumput liar.
Husaini menyebut keberadaan situs serupa kini sangat langka dan hanya tersisa di beberapa negara seperti Prancis dan Malaysia. Ia berharap pemerintah dan masyarakat lebih serius menjaga serta memperkenalkan situs tersebut kepada pelajar dan generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.
Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang mengaku terus berupaya menjaga situs sejarah yang ada, meski terkendala status kepemilikan lahan yang sebagian masih milik warga. Pemerintah daerah juga berencana melakukan pemugaran untuk menjaga kelestarian Bukit Kerang sebagai warisan sejarah Aceh.