Deli Serdang, EXPLOREPUBLIC (22/5/2026) Perkembangan tren fashion yang semakin cepat membuat sebagian anak muda merasa perlu terus mengikuti gaya yang sedang populer agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Penampilan yang terus berubah mengikuti tren juga mulai menjadi perhatian, terutama di kalangan Generasi Z yang cukup dekat dengan media sosial.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari tren yang sedang ramai diikuti. Selain itu, muncul juga pola pikir You Only Live Once (YOLO), yaitu anggapan bahwa seseorang perlu menikmati hidup saat ini tanpa terlalu memikirkan dampaknya di masa depan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa fenomena FOMO dan YOLO menjadi salah satu pendorong tingginya penggunaan layanan paylater dan pinjaman online (pinjol) di kalangan remaja serta generasi muda. Dalam konteks fashion, keinginan untuk tetap tampil mengikuti tren terkadang membuat keputusan berbelanja tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, tetapi lebih kepada dorongan untuk tetap terlihat relevan dan tidak tertinggal dari lingkungan sekitar.

Kemudahan akses pembayaran digital juga membuat proses berbelanja menjadi semakin mudah dilakukan. Namun, kondisi tersebut menimbulkan perhatian karena dapat memengaruhi kebiasaan konsumtif dan berisiko terhadap kondisi finansial di masa depan.

Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah mengikuti tren fashion saat ini masih menjadi bentuk ekspresi diri, atau mulai berubah menjadi tekanan sosial yang membuat seseorang merasa harus terus berbelanja demi menjaga penampilan.