Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC - Kota Lhokseumawe memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perdagangan dan pelayaran di pesisir utara Aceh. Sebelum dikenal sebagai kota industri, wilayah ini dahulu dikenal dengan nama Teluk Seumawe atau Teluk Samawi yang menjadi salah satu jalur penting perdagangan di Selat Malaka.

Nama Lhokseumawe berasal dari bahasa Aceh, yaitu “Lhok” yang berarti teluk atau palung laut, sedangkan “Seumawe” berarti air yang berputar di sepanjang pesisir Banda Sakti dan sekitarnya. Sejarawan sekaligus dosen Filologi Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Hermansyah, mengatakan bahwa “Nama Lhokseumawe berasal dari kata Teluk Samawi, yang dalam catatan Hindia Belanda ditulis sebagai Telok Semawe,” dalam Seminar Sejarah Kota Lhokseumawe, 15 Oktober 2025.

Berdasarkan catatan sejarah, kawasan ini mulai berkembang sejak munculnya Kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13. Pada tahun 1524, wilayah tersebut kemudian menjadi bagian dari Kesultanan Aceh. Letaknya yang berada di jalur Selat Malaka membuat kawasan ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional dan tempat singgah para pedagang dari Arab, Gujarat, hingga Tiongkok.

Selain dikenal sebagai pusat perdagangan, Lhokseumawe juga memiliki kaitan erat dengan perkembangan Islam di Aceh. Kawasan ini menjadi tempat pemukiman para pelaut dari Samudera Pasai yang berperan dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya situs pemakaman kuno yang memuat nama-nama ahli pelayaran pada batu nisannya.

Aktivitas perdagangan di kawasan Teluk Seumawe sempat mengalami kemunduran akibat konflik antara Samudera Pasai, Portugis, dan Kerajaan Aceh. Saat itu, Portugis berupaya menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di Aceh sehingga terjadi perebutan kekuasaan di wilayah tersebut.

Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini berada di bawah pemerintahan Uleebalang Kutablang. Setelah perlawanan rakyat Aceh melemah pada tahun 1903, pemerintah Belanda mulai membangun berbagai fasilitas seperti jalur kereta api, pelabuhan, dan kantor pemerintahan guna mendukung aktivitas perdagangan.

Kapten Laut Belanda, Von Schmidt, pernah menyebut Teluk Seumawe sebagai pelabuhan yang aman dan nyaman di pesisir utara Aceh. Dari pelabuhan tersebut, berbagai hasil rempah-rempah Aceh dikirim hingga ke Eropa.

Kini, sejarah Teluk Seumawe masih menjadi bagian penting identitas Kota Lhokseumawe. Pada 21 Juni 2001, Lhokseumawe resmi berstatus sebagai kota. Meski berkembang sebagai kota industri, masyarakat diharapkan tetap menjaga dan mengenal sejarah daerah agar warisan budaya lokal tidak hilang di tengah perkembangan zaman.