Medan, EXPLOREPUBLIC — (06/05/2026) Aktivitas thrifting atau membeli pakaian bekas layak pakai semakin diminati kalangan Generasi Z di Kota Medan. Selain dianggap lebih hemat, thrifting kini juga menjadi bagian dari gaya hidup anak muda untuk memenuhi kebutuhan fashion dengan biaya terjangkau.
Salah satu lokasi yang menjadi tujuan anak muda untuk berburu pakaian thrifting adalah Pamela atau Pajak Melati Mall (Pamela) di Medan. Tempat ini dikenal sebagai salah satu pusat penjualan pakaian bekas yang menawarkan berbagai pilihan fashion dengan harga relatif murah.
Meningkatnya minat terhadap thrifting terlihat dari pengalaman sejumlah anak muda yang aktif melakukan aktivitas tersebut. Bagi sebagian Gen Z, thrifting tidak lagi dipandang sebagai alternatif berbelanja, tetapi menjadi cara untuk tetap tampil menarik tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Alfi (20), salah satu penggemar thrifting, mengatakan alasan utama dirinya memilih pakaian bekas adalah faktor ekonomi. Menurutnya, thrifting dapat menghemat pengeluaran namun tetap membuat penampilan terlihat menarik.
“Saya memilih thrifting karena lebih menghemat biaya, tapi tetap bisa membuat penampilan terlihat keren,” ujar Alfi kepada penulis.
Ia mengaku lebih menyukai thrifting secara langsung dibandingkan online karena dapat melihat kondisi barang dengan lebih jelas.
“Saya lebih puas kalau thrifting langsung ke pasar dibandingkan secara online,” katanya.
Menurut Alfi, thrifting kini lebih dari sekadar tren dan telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Ia juga mengaku sering menemukan barang bermerek atau model pakaian yang jarang ditemui di pasaran.
“Saya sering mendapatkan barang branded atau model yang jarang ditemukan, jadi tidak pasaran,” ungkapnya.
Untuk sekali berbelanja, Alfi mengaku dapat menghabiskan dana lebih dari Rp900 ribu tergantung jumlah barang yang dibeli.
Hal serupa disampaikan Nisa (19), yang menilai thrifting sebagai pilihan belanja yang menguntungkan karena harga pakaian jauh lebih murah dibandingkan barang baru.
“Saya memilih thrifting karena harganya jauh lebih murah, bahkan bisa tiga perempat lebih rendah dari harga aslinya,” ujar Nisa.
Nisa mengatakan dirinya lebih sering berbelanja langsung di toko offline agar dapat memastikan kondisi pakaian sebelum membeli. Menurutnya, thrifting lebih mencerminkan gaya hidup karena setiap orang memiliki selera berpakaian yang berbeda.
“Kalau menurut saya ini lebih ke gaya hidup, karena setiap orang punya style masing masing. Di thrift kita bisa cari yang sesuai dengan diri kita, bukan sekadar ikut tren,” katanya.
Meski demikian, Nisa menilai popularitas thrifting dapat berubah apabila harga pakaian bekas semakin mahal dan kompetitif.
“Kalau terus naik, mungkin lebih baik beli barang baru dari brand lokal,” tutupnya.
Fenomena thrifting di kalangan Generasi Z menunjukkan perubahan pola belanja anak muda di Medan. Selain mempertimbangkan harga yang lebih terjangkau, mereka juga mencari keunikan barang dan kepuasan pribadi, sehingga thrifting kini mulai menjadi bagian dari gaya hidup.