Aceh Besar, EXPLOREPUBLIC – Setelah hamparan sawah di Gampong Lampanah, Aceh Besar, selesai ditanami padi, warga sekitar langsung menggelar Khanduri Blang sebagai bentuk syukuran dan doa bersama. Tradisi ini menjadi wujud gotong royong masyarakat Aceh dalam menjaga nilai adat dan ajaran Islam yang telah diwariskan turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.
Khanduri Blang adalah ritual kenduri syukuran yang dilakukan di pematang sawah setelah proses tanam padi selesai. Warga membawa nasi, lauk pauk seperti ayam kampung dan keumamah, serta kue tradisional untuk dimakan bersama.
Acara dimulai dengan pembacaan doa dan zikir yang dipimpin teungku, dilanjutkan makan bersama langsung di atas tikar yang digelar di sawah. Tujuannya memohon berkah agar padi terhindar dari hama dan hasil panen melimpah.
Seluruh warga gampong ikut terlibat tanpa terkecuali. Kaum laki-laki bertugas menyembelih hewan, memasak, dan menyiapkan tempat kenduri di sawah. Perempuan fokus menyiapkan hidangan di dapur meunasah dan membungkus makanan untuk dibawa.
Anak muda dan anak-anak ikut membantu mengangkut peralatan serta merapikan lokasi. Teungku atau imam meunasah menjadi pemimpin doa dan memberikan tausiah singkat tentang pentingnya bersyukur kepada Allah atas rezeki tanah.
Tradisi ini digelar langsung di pematang sawah atau “Blang” milik warga. Lokasi dipilih di tengah hamparan sawah yang baru selesai ditanami agar suasana lebih sakral dan dekat dengan alam. Di Gampong Lampanah, acara dipusatkan di sawah milik keuchik yang menjadi pusat pertemuan warga. Pemilihan tempat ini juga memudahkan semua warga berkumpul karena sawah biasanya berada di pusat permukiman gampong.
Khanduri Blang dilaksanakan sehari atau dua hari setelah seluruh warga selesai menanam padi. Waktu pelaksanaannya tidak terikat tanggal pasti, melainkan mengikuti kalender tanam masyarakat setempat yang biasanya jatuh pada bulan Maret hingga April atau saat musim tanam tiba.
Anik (43), salah satu warga yang sedang membantu acara ini, mengatakan, “Kalau semua sawah sudah selesai ditanam, besoknya langsung khanduri. Tidak bisa ditunda”.
Bagi masyarakat Aceh, Khanduri Blang bukan sekadar pesta makan, melainkan ungkapan syukur dan doa agar diberi hasil panen yang baik. Tradisi ini juga berfungsi memperkuat ikatan sosial antar warga karena semua lapisan masyarakat turun tangan tanpa memandang status ekonomi. Nilai gotong royong dan kebersamaan yang terkandung di dalamnya menjadi perekat sosial yang menjaga keharmonisan gampong di tengah perubahan zaman.
Pelaksanaan dimulai dengan gotong royong warga menyiapkan lokasi dan makanan sejak pagi hari. Setelah azan Zuhur, teungku memimpin doa tolak bala dan doa keselamatan tanaman. Usai doa, warga makan bersama di pematang sawah sambil berbincang dan saling bertukar cerita. Sisa makanan dibagikan kepada warga yang tidak bisa hadir. Uniknya, tradisi ini tetap bertahan meskipun alat pertanian sudah modern, karena makna kebersamaannya dianggap tidak tergantikan.