SilahiSabungan, EXPLOREPUBLIC (28/05/2026) Ditepian Danau Toba, tepatnya di kawasan Silalahi, terdapat satu kuliner tradisional yang masih bertahan hingga saat ini, yaitu Bubur Sitohap. Makanan khas masyarakat Batak tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal yang terus dijaga keberadaannya.
Sekilas, Bubur Sitohap terlihat seperti bubur ayam pada umumnya. Namun, di balik tampilannya yang sederhana, terdapat cita rasa khas yang berasal dari perpaduan rempah-rempah tradisional serta penggunaan daun sitohap yang menjadi ciri utamanya.
Pak Aston (54) menjelaskan bahwa bahan utama yang digunakan untuk membuat Bubur Sitohap tidak jauh berbeda dengan bubur lainnya. Beras dan ayam menjadi bahan dasar, kemudian dimasak bersama berbagai bumbu pilihan hingga menghasilkan rasa yang gurih dan harum.
“Kalau bahan dasarnya sama seperti bubur biasa, ada beras dan ayam. Untuk bumbunya menggunakan bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, daun sitohap, dan andaliman. Nah, andaliman ini yang memberikan rasa khas Batak pada bubur sehingga rasanya berbeda dengan bubur yang biasanya kita temui,” ujar Pak Aston.
Menurutnya, setiap bumbu memiliki peran penting dalam menciptakan cita rasa Bubur Sitohap. Proses memasaknya juga tidak bisa terburu-buru karena semua bahan harus benar-benar menyatu agar menghasilkan rasa yang kaya dan aroma yang menggugah selera.
Pak Aston juga menjelaskan bahwa nama Bubur Sitohap berasal dari daun sitohap yang digunakan saat proses memasak. Daun tersebut menjadi pembeda utama antara Bubur Sitohap dengan jenis bubur lainnya yang ada di berbagai daerah.
“Kenapa disebut Bubur Sitohap? Karena menggunakan daun sitohap. Daun ini tidak mudah ditemukan karena tumbuh liar di kawasan hutan pegunungan sekitar Danau Toba. Dari dulu masyarakat di sini sudah menggunakan daun tersebut sebagai bagian dari proses memasak bubur,” jelasnya.
Keberadaan daun sitohap membuat Bubur Sitohap memiliki aroma yang khas dan sulit ditemukan pada makanan sejenis. Karena itulah kuliner ini tetap dipertahankan oleh masyarakat Silalahi sebagai salah satu warisan leluhur yang bernilai budaya.
Selain bahan dan bumbunya yang unik, proses memasak Bubur Sitohap juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Bubur dimasak sekitar 5 jam hingga teksturnya lembut dan seluruh bumbu meresap sempurna ke dalam setiap sajian.
Keunikan lainnya terlihat saat penyajian. Bubur Sitohap biasanya dituangkan ke dalam wadah khusus yang memang digunakan sebagai tempat penyajian bubur tradisional. Cara penyajian tersebut masih dipertahankan sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat.
Bagi warga Silalahi, Bubur Sitohap bukan hanya sekadar makanan untuk mengenyangkan perut. Kuliner ini juga menjadi simbol warisan budaya yang menghubungkan masyarakat dengan tradisi leluhur yang telah dijaga selama bertahun-tahun.
Hingga kini, Bubur Sitohap masih dinikmati oleh masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke kawasan Danau Toba. Rasanya yang khas, proses pembuatannya yang unik, serta nilai budaya yang melekat menjadikan Bubur Sitohap sebagai salah satu kuliner tradisional yang patut terus dilestarikan.