Lhoksemauwe, EXPLOREPUBLIC (19/052026) - Setiap sore sejak pukul 16.00 hingga pukul 22.00, warga yang melintas di persimpangan Simpang Line, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, disambut aroma batagor panas dan cireng renyah dari gerobak milik Siti (32).
Selama sepuluh tahun terakhir, Siti menjaga resep keluarga yang menjadi magnet bagi pembeli lokal. “Ini resep turun-temurun. Pelanggan datang karena rasa yang sama sejak dulu,” kata Siti di lapaknya.
Ia menawarkan batagor khas Medan, dengan adonan ikan dan tahu goreng serta saus kacang kental dan cireng ayam suir yang berlimpah. Paket hemat satu porsi batagor dan satu porsi cireng dijual Rp 10.000.
Menurut Siti, omset harian meningkat sejak 2025 sampai saat ini, dari rata-rata Rp 200.000—Rp 250.000 menjadi Rp 300.000—Rp 400.000. “Puncak jamnya antara 17.00–19.00, banyak yang beli untuk buka puasa atau dibawa pulang,” ujar dia.
Tapi, yang paling penting bukan angka penjualan melainkan soal rasa. "Kalau soal rasa, itu yang paling penting karena membuat pembeli jadi ketagihan," kata Siti sambil tersenyum.
Rifqi (22) pelanggan yang sedang menunggu menimpali, "Saya selalu balik ke sini karena batagornya lembut di dalam, kulitnya tetap renyah meski disiram saus. Bumbunya pas, nggak kebanyakan kacang tapi kaya akan rasa," ujar rifqi.
Meski laris, Siti menghadapi tantangan fluktuasi harga bahan baku yang naik terutama ikan tenggiri dan tepung tapioka. “Harga bahan sering naik kadang susah menjaga harga jual tetap terjangkau tanpa mengurangi porsi,” ujarnya.
Praktik higienis dan opsi pembayaran digital juga menjadi nilai tambah. Siti menerima pembayaran tunai dan QRIS, serta mengatur penyajian dengan sarung tangan dan penutup makanan untuk mengurangi risiko kontaminasi.