Lhokseumawe, EXPLOREPUBLIC (16/5/2026) Di pinggir jalan merdeka, jalan perdangangan tepatnya di depan pendopo bupati, Lhokseumawe. Sebuah gerobak kecil bernama “Roti Goreng Yaka” menjadi magnet warga setempat tiap malam. Dengan harga hanya Rp3.000 per porsi, camilan ini digemari mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pekerja yang baru pulang kerja.
Harga murah itu bukan sekadar daya tarik sesaat, melainkan strategi bertahan di tengah persaingan ketat kuliner malam hari. Roti goreng ini hadir dalam enam varian rasa: cokelat, pisang cokelat, nanas, anggur, stroberi, dan srikaya. Setiap gigitan memberikan sensasi manis yang unik dan menggugah selera.
Ragam pilihan rasanya dirancang untuk menjangkau semua kalangan, dari anak sekolah dasar hingga orang tua. Setiap porsi digoreng segar saat dipesan: renyah di luar, lembut di dalam, lalu dilumuri saus atau selai sesuai permintaan pembeli.
Proses pembuatan yang cepat namun tetap menjaga kebersihan membuat antrean selalu mengular bahkan saat hujan deras sekalipun. Sang pemilik, yang akrab disapa Bang Yaka, mengungkapkan bahwa ia telah berjualan sejak 2020 dan kini mengoperasikan dua gerobak di lokasi strategis berbeda di pusat kota Lhokseumawe.
Keberhasilannya tak hanya ditentukan oleh rasa, tapi juga konsistensi kualitas dan keramahan. Bang Yaka selalu menyambut pelanggan dengan senyum, dan kerap memberikan potongan roti gratis sebagai bentuk apresiasi saat antrean panjang.
Bagi warga Lhokseumawe khususnya mereka yang tinggal atau beraktivitas di kawasan Simpang Lima Roti Goreng Yaka bukan sekadar camilan malam, melainkan bagian dari rutinitas harian yang penuh nostalgia. Di balik roda gerobak sederhana itu, tersimpan kisah perjuangan, kreativitas lokal, dan kekuatan rasa yang terus dinanti dari generasi ke generasi.