Lhokseumawe, Explorepublic — Tradisi Peusijuek atau tepung tawar masih menjadi bagian penting dalam rangkaian adat pernikahan masyarakat Aceh. Tradisi yang sarat makna ini terus dilestarikan sebagai bentuk doa dan harapan bagi kedua mempelai agar memperoleh keberkahan, kebahagiaan, dan kehidupan rumah tangga yang harmonis.
Pada Rabu (17/06/2026), prosesi Peusijuek dilaksanakan dalam sebuah acara pernikahan di Kota Lhokseumawe. Acara tersebut dihadiri oleh keluarga besar kedua mempelai, tokoh adat, serta masyarakat sekitar yang turut menyaksikan jalannya prosesi adat tersebut.
Dalam pelaksanaannya, tokoh adat dan keluarga yang dituakan memercikkan air serta menaburkan bahan-bahan khusus kepada kedua mempelai. Prosesi Peusijuek ini melambangkan doa restu, keselamatan, ketenteraman, dan harapan agar pasangan pengantin dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh keberkahan.
Tradisi Peusijuek telah diwariskan secara turun-temurun dan masih menjadi salah satu prosesi yang penting dalam adat pernikahan Aceh. Selain sebagai simbol doa, tradisi ini juga mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat nilai-nilai budaya di tengah masyarakat.
Menurut Yuyun (21), tradisi Peusijuek memiliki makna yang mendalam dalam pernikahan adat Aceh.
"Peusijuek dalam pernikahan merupakan bentuk doa dan restu dari keluarga serta masyarakat kepada kedua mempelai. Tradisi ini mengandung harapan agar rumah tangga yang dibangun selalu diberikan kebahagiaan, keharmonisan, dan keberkahan," ujarnya.
Melalui pelestarian tradisi Peusijuek dalam pernikahan, masyarakat Aceh berharap nilai-nilai budaya, kebersamaan, dan penghormatan terhadap adat istiadat dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.