Medan, EXPLOREPUBLIC (26/05/2026) Kuliner tradisional khas Karo bernama umbut berbahan batang pisang muda, hingga kini masih terus dilestarikan masyarakat karena memiliki cita rasa khas serta filosofi kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Makanan tradisional ini dibuat menggunakan bagian inti batang pisang muda yang bertekstur lembut. Tidak semua jenis batang pisang dapat digunakan karena hanya batang pisang muda dan segar yang menghasilkan tekstur terbaik saat dimasak.
Ibu Eva (60), warga yang masih mempertahankan kuliner khas tersebut, mengaku telah belajar memasak umbut sejak usia 22 tahun. Menurutnya, menjaga makanan tradisional penting dilakukan agar warisan budaya daerah tidak hilang ditelan zaman.
“Belajar memasak makanan tradisional itu wajib supaya makanan khas daerah tetap ada dan bisa diteruskan ke anak cucu,” ujar Ibu Eva saat menjelaskan proses pembuatan umbut khas Karo.
Ia menjelaskan, proses pembuatan umbut dimulai dengan memilih batang pisang muda, kemudian mengirisnya menjadi potongan kecil-kecil, lalu dicampur dengan kelapa parut agar warnanya tidak menghitam akibat getah batang pisang.
Setelah proses persiapan bahan selesai, berbagai bumbu rempah mulai disiapkan, seperti cabai rawit, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kunyit, daun serai, kemiri, asam cekala dan daun kemangi yang menjadi pelengkap aroma khas masakan tersebut.
“Semua bumbu dihaluskan terlebih dahulu, selain serai dan asam cekala, karena keduanya hanya ditumbuk kasar saja, lalu dimasukkan bersama santan kelapa. Setelah santan mendidih, masukkan ayam kampungnya.” jelas Ibu Eva.
Menurutnya, masyarakat Suku Karo biasanya menggunakan ayam kampung yang dipotong kecil-kecil agar rasa masakan menjadi lebih gurih dan kuahnya semakin nikmat ketika disantap bersama keluarga.
Ibu Eva menambahkan penjelasannya tentang langkah selanjutnya “jika ayamnya sudah setengah masak masukkan irisan batang pisang (Umbut) yang tadi udah disiapkan ke dalam kuali, dan terakhir masukkan daun kemagi agar aroma lebih wangi dan khas.”
Selain dikenal sebagai makanan tradisional, umbut juga sering dihidangkan dalam upacara kematian adat masyarakat Karo. Tradisi tersebut dipercaya memiliki filosofi kehidupan yang menggambarkan harapan dan keberlanjutan hidup.
“Batang pisang walaupun ditebang berkali-kali tetap tumbuh tunas baru. Itu yang menjadi filosofi masyarakat Karo, mati satu tumbuh seribu,” kata Ibu Eva.
Selain menjadi makanan tradisional, umbut juga mencerminkan nilai kehidupan, ketahanan, serta harapan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Karo. Hingga kini, kuliner khas tersebut masih menjadi bagian penting dalam berbagai tradisi adat dan kehidupan masyarakat setempat.